Cara Menyikapi Godaan di bulan Suci Ramadan
- 02 Mar 2026 01:03 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang – Berbagai bentuk godaan kerap hadir dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari godaan amarah, lisan, media sosial, hingga kecenderungan menunda perbuatan baik. Bulan suci Ramadan menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk melatih diri agar lebih kuat, sabar, dan mampu mengendalikan hawa nafsu.
Hal tersebut disampaikan Ketua MPU Aceh Kota Banda Aceh Tgk.H.Sibral Malisyi dalam dialog Mutiara Ramadan yang disiarkan RRI Pro 4 Banda Aceh Minggu, 1 Maret 2026. Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif Islam, godaan telah dijelaskan secara jelas dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah An-Nas ayat terakhir yang menyebutkan adanya bisikan kejahatan ke dalam dada manusia yang berasal dari golongan jin dan manusia.
“Penjelasan tentang godaan itu sudah sangat jelas dalam Al-Qur’an. Godaan merupakan bagian dari ujian hidup manusia,” ujar Tengku Haji Sibral.
| Baca juga: Perpisahan Ramadan dan Harapan di Masa Depan |
Menurutnya, godaan terbagi menjadi dua, yaitu godaan yang bersifat negatif dan positif. Namun pada dasarnya, godaan bersumber dari nafsu. Nafsu cenderung mengarahkan manusia ke arah negatif, kecuali jika dikendalikan oleh akal yang sehat dan iman yang kuat.
Ia mencontohkan godaan positif yang hadir di bulan Ramadan, seperti dorongan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an. “Membaca satu huruf Al-Qur’an saja dapat bernilai 70 hingga 100 kebaikan dari Allah SWT. Inilah godaan yang seharusnya kita sambut,” jelasnya.
Namun, ia mengakui bahwa godaan dalam bentuk ibadah sering kali tidak tampak hasilnya secara langsung di dunia. Hal ini berbeda dengan urusan materi, seperti transaksi atau keuntungan ekonomi, yang hasilnya dapat dirasakan seketika. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat sebagian orang lebih terfokus pada keuntungan duniawi yang sejatinya tidak kekal, baik bagi diri sendiri maupun keluarga yang ditinggalkan.
“Ini yang menjadi persoalan hari ini, ketika manusia terlalu memikirkan keuntungan dunia yang sifatnya sementara,” tambahnya.
Untuk itu, Tengku Haji Sibral mengajak umat Islam agar senantiasa mengutamakan niat yang tulus dalam setiap amal sebagai wujud syukur kepada Allah SWT. Dengan niat yang ikhlas, nikmat yang telah diberikan tidak akan berkurang, melainkan semakin bertambah.
Sebaliknya, jika amal perbuatan hanya berorientasi pada dunia semata, maka manusia tidak akan memiliki bekal yang dapat dibawa menuju kehidupan akhirat kelak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....