Kisah Yassine Bounou, Kesabaran yang Mengantar Sang Penjaga Gawang ke Puncak Dunia

  • 30 Jun 2026 20:55 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang - Dalam sepak bola modern yang menuntut hasil instan, kisah Yassine Bounou atau yang akrab disapa Bono menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju puncak membutuhkan waktu, kesabaran, dan kerja keras.

Penjaga gawang Tim Nasional Maroko itu kini dikenal sebagai salah satu kiper terbaik dunia setelah tampil gemilang bersama Singa Atlas. Akan tetapi, status sebagai pemain utama tidak datang dengan mudah.

Sebelum menjadi pilihan utama negaranya, Bono harus melewati perjalanan panjang. Ia lebih banyak berada di bangku cadangan saat Piala Afrika 2017 dan Piala Dunia 2018. Kesempatan besar baru datang ketika Maroko tampil di Piala Dunia 2022 Qatar.

Sepanjang turnamen, penampilannya nyaris tanpa cela. Ketenangan, refleks cepat, serta kemampuannya membaca arah bola membuat para penyerang kelas dunia kesulitan menembus gawang Maroko.

Momen paling bersejarah terjadi pada babak 16 besar saat menghadapi Spanyol. Setelah pertandingan berakhir tanpa gol hingga babak tambahan, Bono tampil sebagai pahlawan dalam adu penalti. Ia menggagalkan eksekusi Carlos Soler dan Sergio Busquets, sementara tendangan Pablo Sarabia membentur tiang gawang. Maroko menang telak 3-0 dan untuk pertama kalinya melaju ke perempat final Piala Dunia.

Momen ketika Bono (Yassine Bounou) menggagalkan penalti Sergio Busquets dalam laga Maroko vs Spanyol Piala Dunia 2022. Maroko akhirnya menang adu penalti 3-0 dan lolos ke perempat final. (Foto oleh KARIM JAAFAR / AFP)

Penampilan gemilangnya berlanjut saat menghadapi Portugal di babak delapan besar. Bono beberapa kali melakukan penyelamatan penting, termasuk menggagalkan peluang emas Cristiano Ronaldo pada masa injury time. Maroko mempertahankan keunggulan 1-0 hingga peluit akhir, sementara Bono dinobatkan sebagai Man of the Match.

Empat tahun berselang, Bono kembali membuktikan dirinya sebagai spesialis adu penalti. Pada babak 32 besar Piala Dunia 2026, Maroko menghadapi Belanda dalam pertandingan yang berlangsung sengit selama 120 menit. Skor imbang 1-1 memaksa laga ditentukan melalui adu penalti.

Di bawah mistar, Bono kembali menunjukkan kualitasnya. Ia mampu membaca arah tendangan para eksekutor Belanda dengan sangat baik. Saat itu, skor adu penalti masih imbang 2-2.

Harapan Belanda untuk menjaga asa pupus setelah eksekutor kelima, Crysencio Summerville, gagal menjalankan tugasnya. Tendangan pemain tersebut berhasil ditepis oleh Bono, kiper Maroko yang membela West Ham United.

Maroko akhirnya menang 3-2 dalam drama adu penalti, sekaligus menyingkirkan Belanda dan memastikan langkah ke babak 16 besar. Penampilan gemilang itu semakin memperkuat reputasi Bono sebagai salah satu penjaga gawang yang memiliki kemampuan luar biasa dalam situasi adu penalti.

Penjaga gawang Timnas Maroko, Yassine Bounou (1), menyelamatkan penalti dari pemain Belanda Crysencio Summerville (24) selama pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Belanda dan Maroko di Guadalupe, dekat Monterrey, Meksiko, Selasa, 30 Juni 2026. (AP Photo/Ricardo Mazalan)

Bono lahir di Montreal, Kanada, pada 5 April 1991. Saat berusia tujuh tahun, keluarganya memutuskan kembali ke Maroko. Di negara itulah kecintaannya terhadap sepak bola mulai tumbuh.

Karier profesionalnya dimulai bersama akademi Wydad Casablanca sebelum direkrut Atletico Madrid pada 2012. Persaingan ketat membuatnya lebih banyak bermain untuk tim cadangan. Ia kemudian dipinjamkan ke Real Zaragoza sebelum bergabung secara permanen dengan Girona pada 2016.

Bersama Girona, Bono berkembang menjadi salah satu kiper terbaik di kasta kedua Spanyol dan berhasil membawa klub tersebut promosi ke La Liga. Penampilannya menarik perhatian Sevilla yang meminjamnya pada musim 2019-2020.

Kesempatan itu menjadi titik balik kariernya. Bono tampil impresif sepanjang Liga Europa dan membantu Sevilla meraih gelar juara. Penampilan konsistennya membuat Sevilla mempermanenkannya, bahkan ia berhasil meraih Zamora Trophy sebagai kiper dengan rata-rata kebobolan terbaik di kompetisi kasta tertinggi Spanyol.

Pelatih Maroko, Mohamed Ouahbi, menyebut keberhasilan timnya menyingkirkan Belanda menjadi bukti bahwa Maroko telah mendapatkan penghormatan dunia.

"Maroko telah mendapatkan rasa hormat dari semua orang sekarang, kami berhasil menunjukkannya," kata Ouahbi dikutip Reuters.

Ia menilai dukungan jutaan masyarakat Maroko menjadi energi tambahan bagi para pemain untuk terus berjuang.

"Mereka tahu bahwa di belakang mereka ada jutaan orang. Itu memberi Anda energi untuk tidak menyerah, untuk terus maju dan percaya pada diri sendiri," ujarnya.

Kini, nama Bono tidak lagi dikenang sebagai penjaga gawang Maroko. Ia telah menjadi simbol ketangguhan, kesabaran, dan mental juara. Dari bangku cadangan hingga menjadi pahlawan dalam dua edisi Piala Dunia, Bono membuktikan bahwa kesempatan akan datang kepada mereka yang tidak pernah berhenti bekerja keras.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....