Wamentan Sudaryono: Pertanian Kini Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
- 26 Mei 2026 09:19 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Jakarta- Wakil Menteri Pertanian sekaligus ad interim Menteri Pertanian, Sudaryono menegaskan sektor pertanian kini menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi daerah seiring meningkatnya produksi pangan nasional dan berkurangnya ketergantungan impor komoditas strategis.
Hal tersebut disampaikan Sudaryono dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah bertema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Daerah melalui Sinergi Kebijakan Lintas Sektor” di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Senin 25 Mei 2026.
Menurut Sudaryono, kebijakan pemerintah dalam meningkatkan produksi pangan dan mengurangi impor telah memberi dampak langsung terhadap perputaran ekonomi masyarakat desa.
“Dulu uang kita dipakai memperkaya negara lain lewat impor. Sekarang uang yang sama berputar di petani kita sendiri. Ini yang membuat ekonomi daerah bergerak,” ujar Sudaryono.
Ia mengatakan sektor pertanian memiliki efek ekonomi yang luas karena mampu menyerap tenaga kerja, membuka peluang usaha baru, hingga meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat di pedesaan.
Sudaryono mencontohkan keberhasilan Indonesia menghentikan impor beras konsumsi medium pada 2025 serta tercapainya swasembada jagung dan gula konsumsi telah menciptakan ruang produksi baru di dalam negeri.
“Artinya ada lapangan pekerjaan baru, ada masyarakat yang tadinya tidak berdaya menjadi berdaya karena produksi meningkat,” katanya.
Menurut Sudaryono, peningkatan produksi pangan nasional dicapai melalui berbagai program percepatan produksi seperti pompanisasi, pipanisasi, perbaikan irigasi, optimalisasi lahan rawa hingga bantuan benih unggul serta alat dan mesin pertanian.
Kementerian Pertanian, kata dia, juga telah membagikan sekitar 70 ribu pompa guna meningkatkan indeks pertanaman lahan dari satu kali tanam menjadi dua hingga tiga kali tanam setiap tahun.
“Rahasianya sederhana, menanam lebih banyak supaya panennya lebih banyak,” ucap Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) tersebut.
Dalam kesempatan itu, Sudaryono juga menyoroti dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai mulai menciptakan pasar baru bagi komoditas pertanian dan peternakan nasional.
Menurutnya, meningkatnya kebutuhan susu, telur, sayur dan daging mendorong tumbuhnya investasi peternakan sapi perah di berbagai daerah.
“MBG ini menciptakan permintaan besar terhadap susu, sayur, telur, ayam dan komoditas lainnya. Jadi bukan hanya anak-anak yang mendapat gizi, tapi ekonomi pertanian di daerah juga ikut bergerak,” ujarnya.
Selain memenuhi kebutuhan domestik, Sudaryono mengatakan penguatan sektor pertanian juga mulai berdampak terhadap peningkatan ekspor nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor sektor pertanian sepanjang Januari-Desember 2025 mencapai Rp756,59 triliun atau meningkat sekitar Rp166 triliun, sementara nilai impor turun sekitar Rp41 triliun.
Ia juga menilai penguatan nilai dolar Amerika Serikat dapat menjadi peluang bagi komoditas pertanian ekspor seperti kopi, karet, kelapa, cengkeh, gula aren hingga serabut kelapa yang diperdagangkan menggunakan dolar AS.
“Kalau ekspor kita naik, petani juga bisa menikmati nilai tambah karena dibayar dolar. Ini peluang bagi daerah untuk memperkuat komoditas ekspor pertanian,” katanya.
Selain itu, pemerintah juga terus memperluas program cetak sawah baru di luar Pulau Jawa sebagai strategi jangka panjang menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus membuka pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah.
“Cetak sawah bukan hanya soal pangan hari ini, tapi persiapan pangan dan ekonomi Indonesia 50 sampai 100 tahun ke depan,” tutur Sudaryono.
Ia menambahkan sektor pertanian saat ini menjadi salah satu penyumbang terbesar produk domestik bruto nasional sehingga pemerintah terus memperkuat dukungan mulai dari pupuk subsidi, alat mesin pertanian hingga akses pembiayaan murah bagi petani dan peternak.
“Kami yakin sektor pertanian sangat menjanjikan. Produksi ada, pasar ada, ekspor juga besar. Tinggal bagaimana semua pihak mendukung agar ekonomi desa tumbuh semakin kuat,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....