Peu Aweuh Ungkot, saat Laut dan Rempah Sabang Bertemu di ACF 2026
- 14 Sep 2026 21:16 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang- Aroma rempah menguar dari sebuah sajian ikan kakap di Paviliun Kuliner Kota Sabang. Di balik rasanya yang pedas, gurih dan segar, hidangan bernama Peu Aweuh Ungkot itu membawa cerita tentang laut, rempah dan tradisi masyarakat pesisir Pulau Weh.
Menu tersebut dihadirkan dalam lomba kuliner antarkabupaten/kota pada Aceh Culinary Festival atau ACF 2026. Peu Aweuh Ungkot dipilih karena dianggap mewakili kekayaan kuliner yang dekat dengan kehidupan masyarakat Sabang.
Irwan Mahdi pemerhati wisata Sabang mengatakan Peu Aweuh Ungkot merupakan bagian dari warisan kuliner masyarakat setempat. Menurut Irwan, hidangan ini mempertemukan hasil laut dengan kekayaan rempah yang sejak lama menjadi bagian dari dapur masyarakat Aceh.
"Dalam bahasa Aceh, “aweuh” berarti ketumbar. Bumbu tersebut menjadi salah satu ciri utama hidangan karena terlebih dahulu digongseng untuk mengeluarkan aroma dan cita rasanya," jelasnya Senin 14 September 2026.
Ketumbar gongseng kemudian dipadukan dengan cengkeh, kayu manis, kapulaga, jintan, bunga lawang, serai, daun kari atau teumeurui serta kelapa gongseng. Bumbu tersebut menghasilkan kuah pekat dengan aroma rempah yang kuat.
Sementara ikan kakap menjadi gambaran lain dari kehidupan Sabang sebagai wilayah kepulauan. Hasil laut itu kemudian dipertemukan dengan rempah dari daratan dalam satu sajian.
Proses memasaknya juga relatif sederhana. Ikan terlebih dahulu dimarinasi dengan jeruk nipis dan garam, kemudian dimasak bersama bumbu basah dan bumbu kering hingga rempah meresap.
Bumbu basah terdiri atas cabai, bawang, asam sunti, jahe dan lengkuas. Seluruh proses memasak dapat diselesaikan sekitar 20 hingga 30 menit.
Bagi masyarakat Sabang, Peu Aweuh Ungkot tidak sekadar makanan. Hidangan ini juga lekat dengan tradisi meuramin, yakni kebiasaan menikmati makanan secara bersama-sama dalam suasana keluarga maupun lingkungan masyarakat.
Kedekatan itulah yang membuat hidangan tersebut tetap memiliki tempat dalam kehidupan sehari-hari. Bahan utamanya mudah ditemukan, sementara proses pengolahannya tidak membutuhkan waktu panjang.
Melalui ACF 2026, Paviliun Kuliner Kota Sabang membawa Peu Aweuh Ungkot keluar dari meja makan masyarakat Pulau Weh. Sajian ini diperkenalkan sebagai bagian dari identitas kuliner Sabang yang mempertemukan hasil laut, kekayaan rempah dan tradisi kebersamaan.
Semangkuk Peu Aweuh Ungkot akhirnya tidak hanya menawarkan rasa. Di dalamnya ada cerita tentang Sabang sebagai kota kepulauan dan masyarakatnya yang tumbuh bersama laut serta kekayaan rempah Aceh.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....