Kenali Dampak Bahaya Rokok Vape bagi Kesehatan

  • 21 Jul 2026 18:09 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang - Di tengah berkembangnya gaya hidup modern, penggunaan rokok elektronik atau vape semakin mudah dijumpai, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Desain perangkat yang menarik, pilihan rasa yang beragam, hingga anggapan bahwa vape lebih aman dibandingkan rokok konvensional membuat banyak orang tertarik mencobanya.

Namun, benarkah vape lebih aman?

Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Hermina Aceh, dr. Vonna Yunira, Sp.P, menegaskan bahwa anggapan tersebut merupakan kesalahpahaman yang masih banyak dipercaya masyarakat. "Anggapan bahwa vape lebih aman dibandingkan rokok konvensional itu salah. Keduanya sama-sama menyebabkan cedera paru, hanya mekanisme kerusakannya yang berbeda," hal ini disampaikannya dalam Dialog Asokaya Pro 4 Banda Aceh dengan tema “Vape Gaya atau Ancaman”, Sabtu 27 Juni 2026.

Menurutnya, vape merupakan rokok elektronik yang bekerja dengan memanaskan cairan (e-liquid) hingga berubah menjadi aerosol untuk dihirup. Aerosol tersebut bukan sekadar uap air, melainkan mengandung berbagai zat kimia seperti propilen glikol, gliserol, nikotin, aldehid, serta partikel berukuran sangat kecil yang mampu masuk jauh ke dalam paru-paru.

Perbedaan mekanisme inilah yang sering tidak dipahami masyarakat, pada rokok konvensional, kerusakan paru terjadi akibat hasil pembakaran tembakau. Sementara pada vape, partikel aerosol yang sangat halus mampu melewati saluran napas atas dan mengendap hingga ke bagian paru terdalam.

Paparan berulang memicu proses peradangan atau inflamasi, saat tubuh berusaha memperbaiki jaringan yang rusak, akan terbentuk jaringan parut yang bersifat permanen atau irreversible. Akibatnya, elastisitas paru menurun sehingga fungsi pernapasan perlahan ikut berkurang.

Selain risiko penurunan fungsi paru, vape juga dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan lain, seperti bronkiolitis obliterans atau popcorn lung disease, yakni penyakit yang menyebabkan penyempitan saluran napas kecil akibat pembentukan jaringan parut. Penyakit ini dikaitkan dengan bahan perasa tertentu yang terdapat dalam cairan vape.

Tak hanya itu, terdapat pula kondisi yang dikenal sebagai EVALI (E-cigarette or Vaping Associated Lung Injury), yaitu cedera paru akut yang dapat muncul dalam waktu singkat setelah seseorang menggunakan vape, terutama produk ilegal yang kandungannya tidak terjamin.

Di sisi lain, penelitian mengenai dampak jangka panjang vape terhadap kanker paru memang masih terus berkembang karena penggunaan vape baru meluas dalam sekitar satu dekade terakhir. Namun berbagai penelitian telah menunjukkan adanya kerusakan DNA serta proses inflamasi yang dapat meningkatkan risiko penyakit kronis.

Organisasi kesehatan dunia juga mengingatkan bahwa rokok elektronik bukanlah produk yang aman. Aerosol vape dapat mengandung nikotin dan berbagai zat berbahaya yang berdampak bagi pengguna maupun orang yang menghirup paparan asapnya.

Karena itu, masyarakat diimbau tidak mudah percaya pada promosi yang menggambarkan vape sebagai simbol gaya hidup sehat atau modern. Pilihan terbaik bagi kesehatan tetaplah menghindari seluruh produk tembakau, termasuk rokok elektronik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....