Rujukan Bermasalah, Nyawa Ibu Melahirkan Dipertaruhkan

  • 18 Jun 2026 23:01 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang – Sistem rujukan pelayanan kesehatan yang belum berjalan optimal dinilai menjadi salah satu penyebab masih tingginya angka kematian ibu melahirkan di Indonesia. Keterlambatan dalam proses rujukan dapat membuat pasien kehilangan kesempatan mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.

Pakar Obstetri dan Ginekologi, Prof. Dr. dr. Rajuddin, Sp.OG, (K)., Subsp. FER., mengatakan persoalan rujukan perlu menjadi perhatian serius karena sebagian besar kasus kematian ibu terjadi pada fase-fase kritis sebelum atau saat tiba di rumah sakit rujukan.

“Sistem rujukan pelayanan kesehatan kita saat ini memang perlu diperbaiki. Selama ini kalau kita berbicara tentang kematian ibu, selalu yang disalahkan adalah orang yang terakhir menangani pasien, padahal masalahnya sering terjadi jauh sebelum pasien sampai ke rumah sakit rujukan,” ujarnya dalam Dialog Klinik Angkasa RRI Banda Aceh, Sabtu 13 Juni 2026.

Lebih lanjut ia mengatakan, tingginya angka kematian ibu menunjukkan masih adanya persoalan mendasar dalam tata kelola pelayanan kesehatan. Ia menyebut sekitar 78 persen kematian ibu terjadi di rumah sakit rujukan, yang mengindikasikan adanya keterlambatan dalam penanganan kasus kegawatdaruratan.

“Penyebabnya sangat sensitif pada menit-menit terakhir, yaitu saat proses rujukan. Bahkan 78,18 persen kematian ibu terjadi di rumah sakit rujukan. Artinya ada masalah yang harus kita evaluasi bersama,” katanya.

Rajudin mencontohkan kasus seorang ibu yang mengalami perdarahan hebat setelah melahirkan. Meski berada dekat dengan rumah sakit rujukan utama, pasien justru dibawa ke rumah sakit lain yang lebih jauh sebelum akhirnya dirujuk kembali ke fasilitas yang lebih lengkap.

“Kenapa tidak dari awal langsung dirujuk ke rumah sakit yang paling mampu menangani? Dalam kondisi darurat, setiap menit sangat berharga. Yang dirugikan tentu pasien dan keluarganya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa dalam kondisi kegawatdaruratan, pasien harus segera dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat yang memiliki kompetensi menangani kasus tersebut. Keputusan yang memperpanjang jalur rujukan justru meningkatkan risiko kematian.

“Dari semua pilihan risiko, kita harus mengambil risiko yang paling kecil bagi pasien. Dari semua pilihan jarak, kita harus memilih yang paling dekat untuk menyelamatkan nyawa pasien,” ucap Rajudin.

Ia berharap pemerintah dan pengelola fasilitas kesehatan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem rujukan agar keselamatan ibu melahirkan dapat lebih terjamin. “Restrukturisasi sistem rujukan tidak sekadar pemenuhan target teknologi, melainkan tanggung jawab moral kita bersama terhadap keselamatan ibu dan bayi yang akan dilahirkan,” tutupnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....