Stop Berpura-pura Kuat! Langkah Awal Mengatasi Duck Syndrome
- 02 Apr 2026 15:26 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang - Istilah duck syndrome atau sindrom bebek, pertama kali diperkenalkan oleh Universitas Stanford untuk menggambarkan fenomena mental di kalangan mahasiswanya. Melalui analogi bebek yang tampak tenang di permukaan air meski kakinya bekerja keras di bawahnya. Istilah ini merujuk pada kondisi seseorang yang terlihat stabil dan sukses, namun sebenarnya sedang berjuang menghadapi tekanan berat serta kecemasan demi memenuhi standar hidup dan ekspektasi orang lain.
Perawat Anak dan Remaja, Anita mengatakan bahwa banyak remaja yang selalu mengeluarkan kata ‘aku gak apa-apa’. Padahal menurutnya, dalam berusaha mengeluarkan kata itu, ada kekuatan dan pertahanan yang dia lakukan agar ia terlihat baik-baik saja. “Duck syndrome ini memberikan efek yang luar biasa. Yang menyebabkan remaja tidak bisa meregulasi emosi dengan baik, bahkan tidak dapat mengenali emosi sedihnya,” ujarnya dalam dialog Bersama RRI Pro 2 Banda Aceh, Kamis 5 Maret 2026.
Ada beberapa factor yang menyebabkan duck syndrome, seperti tekanan lingkungan yang cenderung menuntut kita terlihat baik-baik saja dan tidak menunjukkan kerapuhan emosi. Kemudian, beban atau ekspektasi orang tua yang sering membuat anak memikul Impian orang tua, seperti menginginkan anaknya memilih jurusan kuliah yang tidak diminati sang anak.
Ketika seseorang terlalu lama berada dalam mode duck syndrome akan mengalami mental blocking. Ciri-ciri mental blocking adalah kurangnya motivasi dalam diri, kesulitan regulasi emosi, dan dapat mengarahkan perilaku perlawanan.
Reaksi perlawanan ini bisa dalam beberapa aksi, bisa berupa perlawanan secara terbuka, melakukan pelarian, atau freeze (diam dan memendam). Tipe freeze ini harus diwaspadai karena luka batin yang dipendam bertahun-tahun bisa meledak menjadi depresi berat atau Tindakan menyakiti diri sendiri.
Langkah awal untuk keluar dari fenomena duck syndrome ini adalah berani mengakui perasaan lelah diri dan butuh bantuan. Orang tua juga harus lebih peduli terhadap perasaan anak dan mendengar tanpa menghakimi. Kemudian curhatlah kepada orang yang kamu percaya, bisa kepada orang tua kamu atau bestie kamu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....