Trauma Psikologis Sering Muncul Terlambat pada Korban Bencana

  • 07 Feb 2026 11:31 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang - Bencana alam, baik banjir, tanah longsor, maupun tsunami, selalu meninggalkan kerusakan yang nyata dan terlihat. Namun, dibalik reruntuhan bangunan dan harta benda yang hanyut, terdapat luka yang sering kali tidak kasat mata, yaitu trauma psikologis.

Rulia Hanifah, S.Psi., M.Psi., Psikolog (Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan APSI Wilayah Aceh) mengatakan, berbeda dengan luka fisik, trauma sering kali bersifat tertunda (delayed). “Bicara mengenai trauma, tidak selalu muncul pada hari-hari pertama bencana, karena penyintas biasanya terlalu sibuk dengan kebutuhan dasar seperti makanan, minuman, dan pakaian,” ujarnya dalam dialog bersama Pro 1 Banda Aceh, Selasa 20 Januari 2026.

Seringnya kondisi traumatis ini dapat muncul berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan setelah bencana melanda, dan yang paling banyak terdampak trauma adalah anak-anak. Gejala trauma dapat berupa gangguan tidur, kecemasan berlebihan, hingga perubahan perilaku pada anak-anak seperti tidak mau ditinggal sendiri, bahkan tidak semangat untuk kembali bersekolah.

Untuk mengikis kesedihan anak-anak, diperlukan dukungan psikososial, berupa aktivitas bermain, menggambar dan bercerita. “Anak-anak tidak bisa menyampaikan perasaannya seperti orang dewasa, jadi salah satunya melalui aktivitas bermain itu dapat mengeluarkan emosi dari anak-anak,” lanjutnya.

Ia juga menjelaskan pentingnya membedakan antara dukungan psikososial dan trauma healing. Jika dukungan psikososial bisa diberikan oleh guru atau relawan melalui aktivitas rekreatif, sedangkan trauma healing merupakan ranah psikolog untuk menangani penyintas yang mengalami gangguan trauma yang memerlukan penanganan lebih lanjut jika ketakutan terus mengganggu kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....