Aceh Besar Perkuat Sekolah Ramah Anak untuk Cegah Perundungan
- 11 Jun 2026 00:22 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang – Pemerintah Kabupaten Aceh Besar melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan terus memperkuat program sekolah ramah anak guna menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik. Upaya tersebut dilakukan melalui pembentukan kelompok kerja sekolah aman dan nyaman, penguatan pendidikan karakter, serta peningkatan keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Besar, Rahmawati, S.Pd., M.Si., mengatakan pihaknya telah membentuk Kelompok Kerja (Pokja) Budaya Sekolah Aman dan Nyaman sebagai bagian dari upaya pencegahan berbagai bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan.
Hal itu disampaikannya dalam dialog IDOLA RRI Banda Aceh, Minggu, 7 Juni 2026.
"Kami sudah membentuk kelompok kerja budaya sekolah aman dan nyaman. Tujuannya agar sekolah bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang yang aman bagi anak," ujarnya.
Rahmawati menjelaskan, selama enam tahun terakhir Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Besar juga menjalin kerja sama dengan Kejaksaan dan Kepolisian untuk memberikan edukasi kepada peserta didik. Materi yang diberikan meliputi pembinaan kedisiplinan, bahaya penyalahgunaan narkoba, pencegahan kekerasan, hingga peningkatan kesadaran hukum di kalangan pelajar.
Menurutnya, sekolah tidak cukup hanya berperan sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan. Sekolah juga harus mampu menjadi ruang yang melindungi anak dari ancaman kekerasan, diskriminasi, maupun tekanan psikologis, sehingga peserta didik dapat belajar dan berkembang secara optimal.
Sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter, pihaknya juga menghidupkan kembali kegiatan kepramukaan di sekolah. Kegiatan tersebut dinilai efektif dalam menanamkan nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, kemandirian, kepemimpinan, serta semangat gotong royong.
Bahkan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Besar mendorong setiap sekolah untuk menyelenggarakan kegiatan perkemahan sedikitnya empat kali dalam setahun sebagai sarana pembelajaran di luar kelas yang mampu membentuk karakter peserta didik secara lebih menyeluruh.
Di bidang pendidikan keagamaan, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar akan menerapkan program "Beut Kitab Bak Sikula" di seluruh jenjang SD dan SMP mulai tahun ajaran 2026/2027. Program tersebut mengadopsi pola pembelajaran dayah untuk memperkuat pemahaman agama, pembinaan akhlak, serta internalisasi nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari siswa.
Rahmawati juga menyoroti perubahan pola perundungan yang kini semakin kompleks seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi. Menurutnya, perundungan tidak lagi terbatas pada kekerasan fisik, tetapi juga dapat terjadi melalui ruang digital.
"Bullying hari ini bukan hanya memukul atau kekerasan fisik. Memfoto anak lalu menyebarkannya di media sosial hingga membuatnya tertekan secara psikologis juga termasuk perundungan," katanya.
Ia menegaskan bahwa tindakan mempermalukan, mengintimidasi, atau menyebarkan konten yang merendahkan seseorang melalui media sosial dapat menimbulkan dampak psikologis yang serius bagi korban. Karena itu, literasi digital dan pengawasan penggunaan gawai oleh anak perlu menjadi perhatian bersama.
Menurut Rahmawati, pencegahan perundungan hanya dapat dilakukan melalui kolaborasi seluruh pihak. Sekolah, komite sekolah, masyarakat, aparat penegak hukum, dan terutama orang tua harus memiliki kepedulian yang sama dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak.
Sebagai bentuk penguatan peran keluarga dalam pendidikan, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar juga berencana mewajibkan orang tua mengantar anak pada hari pertama masuk sekolah. Kebijakan tersebut diharapkan dapat mempererat hubungan antara sekolah dan keluarga sekaligus menumbuhkan keterlibatan orang tua dalam mendampingi pendidikan anak.
Rahmawati berharap berbagai program yang dijalankan tidak hanya mampu menekan angka perundungan di lingkungan pendidikan, tetapi juga melahirkan generasi Aceh Besar yang berkarakter Islami, mandiri, berintegritas, cakap menghadapi perkembangan digital, serta siap menyongsong Indonesia Emas 2045.
"Tujuan akhirnya adalah menghadirkan sekolah yang benar-benar aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak. Dengan dukungan semua pihak, kita ingin mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam karakter dan akhlaknya," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....