Fenomena La Nina, Ketika Perubahan Iklim Memicu Bencana
- 19 Nov 2025 23:00 WIB
- Sabang
KBRN, Sabang : La Nina merupakan pola cuaca yang rumit dan kompleks yang terjadi tiap beberapa tahun sekali, sebagai akibat dari variasi suhu muka laut di wilayah Samudera Pasifik yang dekat atau berada di garis khatulistiwa. Fenomena ini terjadi karena hembusan angin yang kuat meniup air hangat permukaan laut dari Amerika Selatan melewati Pasifik menuju wilayah timur Indonesia.
DR. Yopi Ilhamsyah, Dosen Fakultas Kelautan & Perikanan USK Peneliti Sains Atmosfer Pusat Riset STEM USK menjelaskan saat ini karena adanya faktor perubahan iklim sehingga mengakibatkan fenomena la nina bergeser ke wilayah barat Indonesia. “Fenomena la nina ini bisa dirasakan di Indonesia bagian timur umumnya, namun karena faktor iklim yang sudah berubah sehingga bergeser ke wilayah barat dan kita di Aceh ini terkena dampaknya,” ujar Yopi dalam program Dialog Pro 1 RRI Banda Aceh, Selasa (18/11/2025).
Sebagaimana diketahui Indonesia merupakan Negara yang terdiri dari pulau-pulau yang dikelilingi oleh lautan luas. La Nina bersumber di samudera pasifik di bagian timur dan samudera hindia di bagian barat.
Yopi menambahkan fenomena la nina ini terjadi pada periode 2-5 tahun, pada saat lautan memanas di atas kondisi normalnya, ada pula kalanya mendingin di atas kondisi normalnya. Terjadi penguapan yang meninggi sehingga terbentuklah awan-awan hujan kemudian hujan turun dengan intensitas tinggi, seperti yang sedang terjadi di wilayah Aceh belakangan ini.
“Berdasarkan informasi dari BMKG sebenarnya kategorinya moderat/menengah, tapi dampaknya sudah dirasakan seperti hujan yang turun dengan intensitas tinggi, wilayah lereng penggunungan juga sungai dikhawatirkan meluap dan mengakibatkan longsor, hal ini juga berpengaruh dari efek pemanasan global,” katanya.
Pada kesempatan yang sama Fazli, SKM., M.KES, Analis Kebencanaan Ahli Madya BPBA mengungkapkan BPBA Aceh telah memberikan respon dalam menghadapi fenomena la nina. “Pemerintah Aceh melalui BPBA tentunya mencoba merespons terhadap kondisi dari fenomena la nina ini, namanya begitu cantik tapi dampaknya begitu berat yang dirasakan,” ujarnya.
Ada beberapa upaya yang dilakukan oleh BPBA dalam merespon kondisi seperti ini. “Yang pertama ialah kami mencoba melakukan prediksi resikonya melalui lembaga terkait, salah satunya BMKG yang dapat memprediksi kondisi cuaca, hal ini menjadi penting dari data-data yang diberikan baik kepada BPBA maupun masyarakat. Yang kedua terkait pemetaan daerah rawan bencana, pemetaan resiko prediksi ini bekerja selama 24 jam dalam menginput data-data kebencanaan di daerah yang kemudian disampaikan kepada provinsi, selanjutnya kami menganalisa mendistribusikan kepada para pihak baik di tingkat provinsi dan juga nasional,” tambah Fazil.
Hal lain yang tidak kalah pentingnya peringatan dini yang diteruskan dan didistribusikan melalui media-media resmi BPBA (Instagram, WhatsApp). Upaya dan langkah lain yang juga dilakukan yaitu mitigasi bencana, dengan periode struktural dan non struktural.
Dalam menghadapi fenomena la nina ini diharapkan kepada masyarakat untuk terus melakukan update informasi cuaca, mewaspadai daerah rawan bencana, mengecek kondisi rumah dan lingkungan. Selain itu juga perlu menyiapkan tas siaga bencana, mewaspadai aktivitas di laut serta meningkatkan gotong royong dan koordinasi bersama dengan warga sekitar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....