Upaya Meminimalisir Banjir, Hingga Titik Kumpul Sampah
- 11 Nov 2025 23:57 WIB
- Sabang
KBRN, Sabang - Kota Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh, adalah kota yang indah dengan sejarah panjang. Namun, seperti banyak kota di Indonesia, Banda Aceh sering menghadapi masalah banjir, terutama saat musim hujan deras. Seringnya banjir ini bukan hanya disebabkan oleh alam, tapi juga erat kaitannya dengan bagaimana kita mengelola lingkungan kota.
Menanggapi permasalahan ini, pada dialog RRI Pro 1 Banda Aceh dalam program dialog Banda aceh sore Tanggap Bencana, Bersama narasumber Rosdiana ST.MT Selaku Kasi Teknologi Pengolaan Sampah Dinas Lingkungan hidup Kebersihan dan keindahan kota Banda Aceh dan Prof. Dr. Ashfa, S.T., M.T. Selaku Dosen Perencanaan wilayah dan kota Usk.
Saat ditanya tentang keterkaitan tata ruang kota Banda Aceh dan meningkatnya frekwensi banjir di area perkotaan dalam beberapa terakhir, pada Selasa (11/11/2025), Dosen Perencanaan wilayah dan kota USK, Ashfa Mengatakan Banjir yang kerap terjadi itu merupakan erat dengan hubungan yang sangat signifikan, melihat iklim dan perubahan global yang sangat cepat serta meningkatnya akan kebutuhan ruang yang sangat cepat akibat perubahan tata guna lahan lokal dan kebutuhan ruang lahan yang semakin banyak, dan lahan kosong sebagai lahan vegetasi yang telah menjadi bangunan, dimana lahan tersebut memiliki lapisan-lapisan kedap air, seperti yang kita ketahui selama ini kita selalu dihadapkan dengan cuaca ekstream dan hujan yang terus menerus dan harusnya saluran drainase mesti terintergrasi dan mengkondisikan saluran air, “Ucapnya.
Asfha menambahkan, menurut pandangan akademis, factor penyebab banjirnya kota banda aceh ialah, terdapat perbedaan karakteristik Perkotaan dan Perdesaan, jika diperkotaan banjir bukan karena Sungai yang meluap, tetapi kapasitas diperkotaan ini harus ditinjau ulang untuk mengatasi perubahan iklim dibumi aceh ini. Selain itu yang utama harus menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah plastik dan juga sungai bukan tempat pembuangan dan harus melakukan konservasi terhadap Sungai-sungai yang ada dikota Banda Aceh, Sebagai Langkah meminimalisasi terhadap genangan-genangan air serta daya resap air kedalam tanah seperti sumur resapan sebagai penyerap air kedalam tanah dan untuk menyelamatkan genangan banjir yang terjadi Dimana-mana.
Terkait hal ini DLHK3 Kota Banda Aceh Rosdiana, saat ditanya tentang kondisi sistem pengolahan sampah di Banda Aceh untuk saat ini, menurut data saat ini sampah yang masuk ke TPA (Tempat Pembungan Akhir)di kota Banda Aceh berkisar 250 Ton / hari
"kita transpotationkan sebagiannya sebanyak 164 Ton/hari, dikarenakan TPA di Kota Banda Aceh sudah tidak mampu menampung kapasitas sampah, maka dari itu harus ditransportationkan diTPA Blambintang," kata dia.
Perlu diketahui ketinggian sampah di TPA Kota Banda Aceh saat ini 35 meter di atas permukaan laut. Untuk saat ini kita memakai metode control line feel yaitu dengan cara 5 hari sekali melakukan pemadatan sampah dengan tanah
Rosdniana menambahkan, pihaknya juga melakukan program pemilhan dan pengolahan sampah berbasis Masyarakat yaitu dengan sistem WCP Waste Collecting Point (titik pengumpulan sampah) dan sistem ini sudah diadopsi sejak tahun 2015 dan program ini sudah berkembang di kota Banda Aceh pada 17 Gampong dengan 38 depo WCP, sistem WCP ini adalah pemilahan langsung sampah dari sumbernya, yaitu dari rumah tangga masing-masing sehingga demikian hanya residu saja yang masuk ke TPA Banda Aceh dan melalui mobil penyuluh untuk menghimbau kepada seluruh warga kota Banda Aceh, Agar dapat mengemas sampah dan mengeluarkan sampahnya pada jam yang sudah ditentukan.
“ini adalah sebagai Upaya penanganan situasi banjir diKota Banda Aceh serta partipasi warga kota Banda Aceh dalam pengolahan sampah rumahan “tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....