Siswa Sabang Ciptakan Inovasi AI untuk Bahasa Aceh
- 02 Okt 2025 01:15 WIB
- Sabang
KBRN, Sabang : Tiga siswa MAN Sabang berhasil menembus babak semifinal Festival Madrasah Young Researcher (FEST MYRA) 2025. Proposal riset mereka mengusung pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk melestarikan bahasa Aceh yang kian tergerus zaman.
Proposal berjudul “Peran Kecerdasan Buatan dengan Nilai Filosofi Matee Aneuk Meupat Jeurat, Matee Adat Pat Tamita terhadap Pelestarian Bahasa Aceh” ditulis oleh Zhairah Salsabila, Dea Fitriani, dan Chairul Amna. Ide tersebut lahir dari keprihatinan mereka melihat generasi muda semakin jarang menggunakan bahasa Aceh.
“Awalnya ide riset ini muncul ketika kami mengamati banyak teman sebaya tidak lagi bisa berbahasa Aceh. Dari situlah muncul gagasan untuk menghadirkan AI sebagai sarana agar bahasa Aceh tetap hidup,” ungkap Zhairah mewakili tim, Rabu (01/10/2025).
Sementara itu guru pembimbing, Hafiz Arif Lubis, S.Si menjelaskan, riset ini tidak hanya menawarkan platform digital pembelajaran, tetapi juga melibatkan nilai filosofi adat Aceh. Pepatah Matee Aneuk Meupat Jeurat, Matee Adat Pat Tamita dijadikan dasar agar bahasa ibu tidak kehilangan makna mendalamnya.
“Banyak anak merasa malu atau menganggap bahasa Aceh ketinggalan zaman. Jika dibiarkan, bukan hanya bahasa yang hilang, tetapi juga nilai-nilai filosofisnya. Karena itu, riset siswa ini penting sebagai cara melestarikan bahasa dengan pendekatan modern,” tegas Hafiz Arif Lubis, S.Si.
Ia menambahkan, riset tersebut merupakan bukti bahwa siswa madrasah mampu melahirkan gagasan relevan dengan kebutuhan zaman. Karya mereka diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda lain di Aceh.
Mendapat Apresiasi
Sementara itu Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Sabang, Samsul Bahri, mengapresiasi inovasi yang dilakukan oleh para siswa. Ia menyebut bahwa riset ini relevan dengan tantangan zaman. Ia menilai, karya tersebut berhasil memadukan kecerdasan buatan dengan pelestarian bahasa dan adat Aceh.
“Prestasi ini menunjukkan bahwa siswa madrasah di Sabang tidak hanya cerdas, tetapi juga peduli terhadap kearifan lokal. Saya berharap ide-ide kreatif semacam ini terus tumbuh agar madrasah semakin dikenal sebagai pusat inovasi,” ungkapnya.
Apresiasi juga datang dari Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Kota Sabang, Nuranifah. Katanya semangat riset siswa MAN Sabang menjadi bukti kepedulian generasi muda terhadap bahasa ibu yang semakin terpinggirkan.
“Riset ini lahir dari kepekaan mereka terhadap pudarnya bahasa Aceh. Teknologi bisa menjadi jembatan agar bahasa ibu tampil dengan wajah lebih modern, tanpa kehilangan nilai filosofisnya,” jelas Nuranifah.
Sementara itu, Kepala MAN Sabang, Saddam Kadafi, menegaskan bahwa prestasi ini tidak lepas dari kerja keras siswa dan dukungan penuh para guru. Ia menilai capaian ini akan menjadi motivasi bagi siswa lainnya.
“Kami selalu mendorong siswa untuk berani bermimpi dan menuangkan ide dalam bentuk riset. Hasil ini menjadi pemicu agar lebih banyak siswa MAN Sabang berkontribusi lewat gagasan besar untuk Aceh dan Indonesia,” tuturnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....