Sabang Jadi Ruang Belajar Riset Kelautan Internasional 2026

  • 09 Sep 2026 15:55 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang - Pulau Weh, Sabang, menjadi ruang belajar riset kelautan internasional melalui Program Lapangan UTM-PORSEC-USK 2026 yang mempertemukan peneliti, akademisi dan peserta dari Indonesia, Malaysia, Vietnam hingga Thailand. Kegiatan bertema Capacity Building on Ocean Remote Sensing Towards Climate Resilience itu resmi dibuka Wakil Wali Kota Sabang, Suradji Junus, di The Pade Dive Resort, Rabu 9 September 2026.

Program ini menempatkan lingkungan laut dan pesisir Sabang sebagai bagian dari proses pembelajaran penginderaan jauh kelautan. Melalui pemanfaatan teknologi tersebut, peserta diajak memahami dinamika lingkungan laut sekaligus memperkuat kapasitas menghadapi tantangan perubahan iklim.

Wakil Wali Kota Sabang, Suradji Junus, menyambut baik dipilihnya Sabang sebagai lokasi pelaksanaan program yang melibatkan jejaring akademisi dan peneliti lintas negara. Menurutnya, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi Sabang untuk memperluas peran dalam pengembangan pengetahuan dan riset kelautan di tingkat internasional.

“Kami sangat senang dan merasa terhormat karena Kota Sabang telah dipilih sebagai salah satu lokasi pelaksanaan Program Lapangan UTM-PORSEC-USK 2026. Kami menilai tema yang diangkat memiliki keterkaitan erat dengan karakter Sabang sebagai kota kepulauan yang kehidupan masyarakatnya bergantung pada laut dan wilayah pesisir," kata Drs. Suradji Junus.

Suradji mengatakan, laut bukan hanya bagian dari kondisi geografis Sabang, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas dan kehidupan masyarakat. Ekosistem laut dan pesisir menopang sektor perikanan, pariwisata, keanekaragaman hayati serta berbagai aktivitas pembangunan di kota tersebut.

"Pemanfaatan penginderaan jauh kelautan, data satelit dan teknologi geospasial dinilai penting untuk membaca perubahan yang terjadi di wilayah laut dan pesisir. Data dan informasi yang dihasilkan dapat memperkuat penelitian ilmiah, pemantauan lingkungan serta pengelolaan sumber daya kelautan secara lebih tepat dan terukur," ujarnya.

Namun, Suradji menegaskan teknologi tidak akan cukup tanpa dukungan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas serta kolaborasi yang kuat antarnegara dan lembaga. Oleh karena itu, Pemko sangat mengapresiasi kerja sama antara Universitas Syiah Kuala, Universiti Teknologi Malaysia, dan PORSEC.

"Harapan kami, Pulau Weh tidak hanya menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan, tetapi juga menjadi ruang belajar terbuka bagi peserta untuk menguji pengetahuan dan teknologi melalui kondisi nyata di lapangan. Interaksi ini kita harapkan melahirkan pertukaran pengetahuan, memperluas jejaring profesional dan membuka peluang kerja sama riset di masa mendatang," tegasnya.

Suradji menilai tantangan perubahan iklim dan pengelolaan sumber daya laut berkelanjutan tidak mengenal batas wilayah maupun negara. “Lautan menghubungkan kita semua, sehingga untuk menghadapinya dibutuhkan ilmu pengetahuan, pendidikan, teknologi dan yang tak kalah penting yaitu kemitraan,” katanya.

Pembukaan program turut dihadiri Dr. Stefano Vignudelli dari Badan Riset Nasional Italia-CNR, Associate Dr. Nurul Hazrina Binti Idris dari Universiti Teknologi Malaysia, serta Dr. Van Duong Nguyen dari Badan Riset Nasional Vietnam-VAST. Hadir pula Dekan Fakultas Kelautan dan Perikanan USK Associate Dr. Haekal Azief Haridhi, Ph.D, Ketua Program Studi Ilmu Kelautan FKP USK Sofyatuddin Karina, M.Sc, serta para instruktur, peneliti, kolega, mitra dan peserta program.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....