Korban Kekerasan Sering Disalahkan, Ini Dampaknya

  • 07 Nov 2025 14:21 WIB
  •  Sabang

KBRN, Banda Aceh: Praktik victim blaming atau menyalahkan korban atas peristiwa kekerasan yang dialaminya masih sering dijumpai dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh. Fenomena ini dinilai memperburuk kondisi psikologis korban karena menambah beban rasa bersalah dan trauma.

Hal tersebut disampaikan oleh Yusriati, Ketua Balee Inong Meulur Kecamatan Ulee Kareng sekaligus Koordinator Presidium Wilayah KPI Aceh, dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh, Senin (3/11/2025).

Menurut Yusriati, victim blaming kerap muncul dalam bentuk penilaian atau komentar negatif terhadap korban, terutama dalam kasus kekerasan atau pelecehan seksual.

“Biasanya korban malah disalahkan, misalnya karena pakaiannya, cara berjalan, atau perilakunya. Seolah-olah kejadian itu terjadi karena kesalahan korban sendiri,” ujar Yusriati.

Ia menjelaskan, pola pikir seperti itu sering muncul tidak hanya di kalangan orang dewasa, tetapi juga melibatkan anak-anak, orang tua, bahkan laki-laki. Tidak jarang pula, masyarakat mengaitkan kejadian yang menimpa korban dengan takdir atau karma.

“Sering kita dengar kalimat seperti ‘mungkin itu sudah takdirnya’, padahal pernyataan seperti itu justru membuat korban semakin terpuruk. Mereka sudah jatuh, malah tertimpa tangga lagi,” jelasnya.

Yusriati menegaskan, bentuk victim blaming yang tampak sepele dalam percakapan sehari-hari, seperti saat terjadi pelecehan di tempat umum, sebenarnya memberi dampak besar terhadap kondisi psikologis korban.

“Korban merasa bersalah, malu, bahkan depresi dan mengalami kecemasan berkepanjangan. Mereka berpikir bahwa kejadian itu sepenuhnya kesalahan mereka,” tambahnya.

Sebagai pendamping perempuan korban kekerasan, Yusriati menilai bahwa pendekatan empatik dan dukungan sosial sangat dibutuhkan agar korban dapat pulih dari trauma. Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam merespons kasus kekerasan, dengan tidak langsung menyalahkan pihak yang menjadi korban.

“Kita harus belajar mendengar dan memahami, bukan menghakimi. Karena ucapan yang salah bisa melukai lebih dalam daripada luka fisik itu sendiri,” pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....