Menjaga Marwah Lagu Aceh di Era AI

  • 07 Feb 2026 13:37 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang - Perjalanan musik Aceh telah melewati berbagai fase, mulai dari era kaset di tahun 90-an, kemudian era VCD pada tahun 2000-an, hingga kini masuk ke era digital seperti youtube dan media sosial TikTok, IG, dsb. Penyanyi dan Pencipta Lagu Aceh, Safir, SH atau lebih dikenal dengan nama Firsa Agam mengatakan, dalam membuat lagu yang enak didengar dan tidak lekang oleh zaman, ia mengatakan bahwa kematangan lirik dan kualitas sastra menjadi poin utamanya.

Firsa juga berbagi cerita mengenai perjuangannya dalam membuat lagu. “Ketika saya membuat sebuah lagu, kertas coretan hingga 50 lembar, hanya untuk sebuah syair yang delapan bait, ada versi satu hingga versi lima puluh. Ini bisa memakan waktu berhari-hari untuk menemukan paduan kata yang pas, baru kemudian diperlihatkan kepada orang lain untuk dikoreksi,” ujarnya dalam dialog bersama Pro 4 Banda Aceh, Rabu 21 Januari 2026.

Kemudian ia menjelaskan bahwa ketika membuat lagu yang abadi, buatlah sesuai selera pasar. “Ketika ingin membuat lagu yang tetap enak di dengar, buatlah lagu sesuai kesukaan pendengar. Lakukan riset pasar dengan mendengar lagu-lagu hits agar tahu posisi dan bisa bersaing,” tambahnya.

Ia juga menyinggung mengenai penggunaan AI dalam musik Aceh. Menurutnya, ini merupakan tantangan besar karena prosesnya yang instan dapat mematikan kreativitas asli dan merusak struktur bahasa Aceh karena banyak lagu AI yang pelafalan Bahasa Aceh yang tidak tepat.

Firsa juga menekankan pentingnya mendaftarkan karya ke platform digital untuk mengklaim originalitas pemilik. Saat ini, baru sekitar 2% lagu Aceh yang terdaftar secara resmi. Pendaftaran ini penting untuk melindungi hak ekonomi agar royalty tetap mengalir ke pemilik asli, terutama di tengah maraknya penggunaan lagu oleh pihak lain atau AI.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....