Sekolah Rakyat Aceh Selatan, Investasi Anak Prasejahtera Raih Masa Depan
- 24 Jun 2026 13:51 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Aceh Selatan - Di sebuah bangunan sederhana yang masih menumpang di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Aceh Selatan, harapan baru tumbuh bagi puluhan anak dari keluarga prasejahtera. Melalui Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 10 Aceh Selatan, Provinsi Aceh, mereka tidak hanya memperoleh pendidikan gratis, tetapi juga kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Para siswa berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, anak yang hampir putus sekolah karena keterbatasan ekonomi, hingga anak yang memiliki orang tua sedang menjalani hukuman pidana. Sebagian lainnya berasal dari daerah terpencil dengan akses pendidikan yang terbatas.
Di sekolah ini, seluruh kebutuhan dasar siswa dibiayai oleh negara, mulai dari pendidikan, asrama, hingga kebutuhan belajar. Selain itu, perhatian juga diberikan kepada keluarga siswa melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi.
Kepala SRT 10 Aceh Selatan, Junaedi Dongoran, M.Pd, mengatakan Program Sekolah Rakyat ini merupakan implementasi dari Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, yang berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan yang merata dan terjangkau.
Menurutnya, program tersebut menyediakan pendidikan berkualitas secara gratis, termasuk akomodasi, seragam, konsumsi dan kebutuhan dasar lainnya yang tanggung sepenuhnya oleh negara. Tujuannya adalah memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan.

“Sekolah ini bukan sekadar menyekolahkan anak-anak dari keluarga prasejahtera, tetapi juga membangun masa depan yang lebih baik bagi seluruh anggota keluarga. Ketika kondisi ekonomi keluarga sudah mandiri, anak-anak dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah umum atau Sekolah Garuda,” ujar Junaedi saat dihubungi RRI, Rabu 24 Juni 2026 .
Ia juga menjelaskan, seluruh siswa berasal dari keluarga penerima Program Keluarga Harapan (PKH). Selain memperoleh akses pendidikan yang lebih terjamin, mereka juga berpeluang mendapatkan bantuan melalui Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah apabila melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Bagi siswa yang memilih tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, sekolah telah menyiapkan berbagai keterampilan. Sekolah membekali siswa dengan berbagai keterampilan, seperti tata rias, menjahit, pertanian, dan elektro. Ke depan, pelatihan otomotif, desain digital dan konten kreator akan dikembangkan agar siswa mampu beradaptasi menghadapi dunia kerja,” tambahnya.

Komitmen memberdayakan keluarga siswa juga terus dilakukan. Baru-baru ini, kata Junaedi, sebanyak 26 orang tua siswa mendapatkan bantuan usaha melalui Sentra Bahagia Sumatera Utara. Bantuan tersebut berupa peralatan produktif seperti mesin gilingan bakso dan mesin perontok bulu ayam untuk meningkatkan pendapatan keluarga.
Di antara puluhan siswa yang belajar di SRT, terdapat kisah perjuangan seorang remaja bernama Raisa Datul Hijjah. Siswi kelas X ini merupakan salah satu dari 75 siswa yang mulai bersekolah di SRT sejak Agustus 2025.
Raisa berasal dari keluarga nelayan sederhana di Aceh Selatan. Penghasilan ayahnya yang tidak menentu, sekitar Rp1 juta per bulan, harus mencukupi kebutuhan empat orang anak. Kondisi keluarga semakin sulit ketika sang ayah jatuh sakit dan tidak mampu bekerja secara maksimal, sementara ibunya tidak memiliki penghasilan.
“Saya ingin sukses dan bisa membantu orang tua,” ujar Raisa penuh semangat.
Saat masih bersekolah di SMPN 2 Labuhan Haji Barat, ia harus berjalan kaki sekitar tiga kilometer setiap hari demi menghemat biaya transportasi. Setelah lulus SMP, keinginannya melanjutkan pendidikan nyaris terhenti karena keterbatasan biaya.
“Saya sangat ingin melanjutkan sekolah, tetapi terkendala biaya,” kenangnya.
Harapan itu muncul ketika orang tuanya mendapat informasi tentang Sekolah Rakyat dari pendamping Dinas Sosial setempat.
Kesempatan tersebut menjadi titik balik bagi Raisa. Kini ia tinggal di asrama dan dapat belajar tanpa terbebani biaya pendidikan. Raisa yang menyukai pelajaran Matematika dan Fisika, bercita-cita menjadi pengusaha sukses agar dapat membantu memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya.
Keberadaan SRT juga memberikan perubahan besar terhadap perkembangan karakter siswa. Guru SRT 10 Aceh Selatan, Wakhidatul Mukaromah, M.Pd., Gr., mengatakan sebagian besar siswa yang masuk ke sekolah tersebut memiliki kemampuan dasar yang masih rendah. Bahkan ada yang belum lancar membaca, menulis, dan berhitung. Banyak pula yang memiliki tingkat kepercayaan diri rendah akibat kondisi sosial dan ekonomi yang mereka alami.
Menurutnya, setelah hampir satu tahun mengikuti pendidikan di SRT, perkembangan mereka mulai terlihat signifikan. Para siswa mendapatkan pendampingan penuh setiap hari, mulai dari kegiatan belajar hingga pembinaan karakter.
“Selain mengikuti pembelajaran formal, mereka juga aktif dalam kegiatan tahfiz Al-Qur’an, seni, kepramukaan, dan berbagai kegiatan ekstrakurikuler lainnya. Anak-anak yang sebelumnya pemalu, sekarang mulai berani tampil di depan umum dan mengikuti berbagai perlombaan,” jelas Wakhidatul.
Prestasi pun mulai diraih. Beberapa siswa berhasil menjadi juara pada ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) serta Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat Kabupaten Aceh Selatan tahun 2026.

Saat ini, SRT 10 Aceh Selatan membina 75 siswa yang terdiri dari 50 siswa tingkat SMP dan 25 siswa tingkat SMA. Meski masih menggunakan gedung sementara sambil menunggu pembangunan sekolah permanen, semangat belajar siswa dan dedikasi para guru tetap tinggi.
Bagi para pendidik di sekolah tersebut, SRT bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang harapan baru bagi anak-anak yang terpinggirkan dari kesempatan. Melalui pendidikan berkualitas, pembinaan karakter dan pelatihan keterampilan, Sekolah Rakyat menjadi langkah nyata dalam mengurangi kemiskinan sekaligus membuka peluang yang lebih luas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....