Dari Kelor Jadi Cuan, Syibram Gerakkan Ekonomi Santri dan Warga Sabang
- 12 Sep 2026 07:57 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang – Daun kelor yang selama ini lebih dikenal sebagai sayuran ternyata dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi. Hal itu dibuktikan Tgk. Syibram Malasi melalui usaha Morinol (Moringga Nol Kilometer) yang mengolah daun kelor menjadi teh celup, serbuk teh, tepung hingga masker.
Usaha tersebut dirintis Tgk. Syibram sejak 2022. Berawal dari pendampingan dan pelatihan yang diberikan Rumah Zakat, Pertamina serta Asosiasi Moringga Center (AMC), ia mulai mengembangkan potensi daun kelor yang tersedia di lingkungan sekitar menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah.
“Kami membeli daun kelor segar dari masyarakat sekitar dengan harga Rp 3ribu hingga Rp 5ribu/kg, sebagai upaya membantu menambah penghasilan warga,” ujar Tgk. Syibram, Owner Morinol sekaligus pemilik Dayah Irsyadul Muta’allimin, Jum’at 11 September 2026.
Menurutnya, proses pengolahan menjadi bagian penting untuk menghasilkan produk kelor yang berkualitas. Daun dipetik satu per satu hingga terpisah dari tangkainya, kemudian dicuci menggunakan air garam untuk membantu membersihkan daun sebelum masuk ke tahap pengeringan. Daun kelor tersebut selanjutnya dijemur selama tiga hari di tempat yang tidak terpapar langsung sinar matahari.
Proses pengeringan, kata Tgk. Syibram membuat berat daun kelor berkurang cukup signifikan. Dari sekitar 12 kilogram daun kelor basah, hanya dapat menghasilkan sekitar 1 kilogram daun kelor kering. Daun yang telah kering kemudian dipotong atau digiling sesuai kebutuhan untuk menghasilkan berbagai produk Morinol. Untuk produk teh kelor, harganya mencapai sekitar Rp190 ribu per kilogram, sementara teh dalam kemasan sachet dijual sekitar Rp1.000 per sachet.
Selain teh, Morinol juga menghasilkan masker kelor yang dijual sekitar Rp 5ribu/bungkus serta tepung kelor dengan harga sekitar Rp 180ribu/kg. Beragam produk tersebut menjadi bukti bahwa tanaman yang tumbuh di sekitar masyarakat dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus membuka peluang usaha baru.
Menariknya, proses produksi Morinol tidak dikerjakan sendiri oleh Syibram. Para santri serta ibu-ibu pengajian di Dayah Irsyadul Muta’allimin yang berada di Gampong Batee Shok, Kecamatan Sukamakmu, Kota Sabang, turut terlibat dalam mengembangkan usaha tersebut. Keterlibatan masyarakat dimulai dari penyediaan bahan baku hingga proses pengolahan produk.
Sebagai pimpinan Dayah Irsyadul Muta’allimin, Syibram melihat pengolahan kelor bukan hanya sebagai kegiatan usaha, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi di lingkungan dayah. Kegiatan produksi memberikan ruang bagi santri untuk belajar keterampilan mengolah bahan baku lokal sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari kegiatan tersebut. Hasil usaha juga dapat membantu mendukung kebutuhan operasional dayah serta memberikan dampak bagi masyarakat yang terlibat.
Kehadiran Morinol pun tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan produk berbahan dasar kelor. Usaha ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi santri, dayah dan masyarakat sekitar. Dengan membeli daun kelor dari warga, tanaman yang sebelumnya lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga kini memiliki nilai jual dan dapat menjadi sumber tambahan pendapatan.
“Kami berharap ilmu tentang pengolahan daun kelor ini dapat bertambah, sehingga kami bisa memproduksi olahan daun kelor lainnya, seperti mie daun kelor dan biskuit kelor,” kata Syibram.
Bagi Syibram, daun kelor bukan sekadar tanaman yang tumbuh di sekitar masyarakat, tetapi juga memiliki potensi untuk menjadi sumber ekonomi. Dari Sabang, Morinol mencoba mengubah daun sederhana menjadi produk bernilai, sembari menumbuhkan kemandirian santri, memperkuat operasional dayah dan membuka peluang pendapatan bagi masyarakat sekitar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....