Limbah Udang Disulap Jadi Penyedap Alami Bernilai Ekonomi

  • 12 Agt 2026 16:51 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang - Limbah kepala, kulit, dan ekor udang yang selama ini kerap terbuang, dimanfaatkan menjadi produk penyedap alami bernilai ekonomi oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Banda Aceh.

Inovasi tersebut dikembangkan Muhammad Raihan, atau yang akrab disapa Boston, melalui produk penyedap berbahan dasar udang dengan merek Udeung’du. Produk ini dikembangkan sejak 2023 ketika dirinya masih menjadi mahasiswa Fakultas Perikanan Universitas Abulyatama.

Boston mengatakan ide tersebut bermula ketika dirinya melihat banyak kulit udang yang terbuang saat berbelanja di pasar. Kondisi itu kemudian mendorongnya melakukan eksperimen untuk mengolah limbah tersebut menjadi penyedap masakan.

“Waktu itu saya melihat limbah kulit udang masih dibuang dan belum dimanfaatkan secara optimal. Dari situ saya berpikir bagaimana rasa gurih dari udang ini bisa menjadi penyedap yang sehat tanpa MSG dan tanpa bahan pengawet,” ujar Muhammad Raihan dalam program UMKM Talks RRI Pro 1 Banda Aceh, Senin 10 Agustus 2026.

Menurutnya, Udeung’du dibuat menggunakan kepala, kulit, dan ekor udang yang dipadukan dengan sejumlah rempah seperti bawang putih, bawang merah, lada, serai, daun jeruk, lengkuas, dan jahe.

Bahan baku udang diperoleh dari sejumlah pedagang di Banda Aceh. Limbah udang yang sebelumnya tidak memiliki nilai jual tersebut dibeli dengan harga sekitar Rp5.000 per kilogram.

“Yang sebelumnya tidak ternilai menjadi uang pemasukan juga bagi pedagang udang. Kalau mereka bisa mengumpulkan 10 kilogram, sudah mendapatkan Rp50.000,” katanya.

Dalam proses produksinya, bahan baku dicuci menggunakan air mengalir sebanyak tiga kali, kemudian direbus bersama rempah untuk mengurangi aroma amis. Setelah itu bahan dikeringkan menggunakan oven sebelum digiling hingga menjadi bubuk dan dikemas.

Boston menyebutkan, saat ini sekali produksi Udeung’du dapat menghasilkan sekitar 500 kemasan. Proses produksi dilakukan secara bertahap selama beberapa hari karena menyesuaikan kapasitas dan peralatan yang tersedia.

Ia mengatakan produk tersebut menyasar masyarakat yang ingin menggunakan penyedap alami, terutama konsumen yang memiliki perhatian terhadap pola hidup sehat. Selain itu, Udengdu juga menyasar restoran, hotel, kafe, serta toko makanan sehat.

“Pasar kami umur 25 hingga 55 tahun, lebih tepatnya ibu-ibu. Kemudian untuk bisnis ke bisnis, resto, hotel, dan kafe yang menggunakan penyedap dalam jumlah banyak,” ujarnya.

Boston berharap inovasi tersebut tidak hanya menghasilkan keuntungan bagi usahanya, tetapi juga memberikan nilai tambah terhadap limbah hasil perikanan serta membuka sumber pendapatan baru bagi pedagang udang.

Ke depan, ia berencana meningkatkan kapasitas produksi, membangun rumah produksi sendiri, mengembangkan varian baru, dan memperluas pemasaran hingga jaringan ritel nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....