Kreasi Batok Kelapa, dari Biasa Menjadi Istimewa
- 16 Jan 2025 22:03 WIB
- Sabang
KBRN, Sabang: Batok kelapa (tempurung) yang sering diabaikan dan dianggap sebagai limbah, ternyata mempunyai potensi besar untuk dijadikan karya seni yang unik dan bernilai jual. Batok kelapa dapat diubah menjadi berbagai macam produk yang bernilai estetik atau komersil melalui sentuhan kreativitas serta keterampilan pengrajinnya.
Ismail, salah seorang pengrajin batok kelapa yang saat ini sedang menekuni usahanya dengan membuat souvenir dari batok kelapa seperti gantungan kunci untuk dijadikan oleh-oleh khas dari Sabang. Di katakan Dek Is sapaan akrabnya, muncul ide membuat kreasi dari batok kelapa sejak covid melanda, dimana saat itu sulit untuk mencari pekerjaan, dan mencoba menggunakan bahan baku yang sederhana dan mudah didapat untuk diubah menjadi sesuatu yang bernilai jual.
“Iya batok kelapa kan mudah didapat, jadi muncullah ide saya untuk membuat souvenir dari batok kelapa tersebut untuk dijadikan oleh-oleh khas dari Sabang. Bahan bakunya ini kan mudah didapat dan harganya pun murah, jadi saya coba mengolah sesuai keinginan atau sesuai dengan pesanan konsumen, tentu saja dengan bentuk-bentuk yang menarik”, ujarnya saat di hubungi RRI via telepon, Rabu, (15/1/2025).
Dalam proses pembuatan produknya membutuhkan waktu tujuh hari untuk menyelesaikannya mulai dari pemilihan batoknya, membuat bentuknya hingga sampai pengecatannya(pernis). Dengan belajar secara otodidak ia pun mampu membuat berbagai macam bentuk seperti bentuk pulau weh, terompah, penyu, lumba-lumba, bertemakan dari bentuk-bentuk sesuai dengan biota laut yang ada di Sabang.
Sedangkan untuk harganya dijual dengan harga yang bervariasi mulai dari Rp.10.000-15.000,- / buah tergantung bentuk dan modelnya, serta yang paling disukai konsumen adalah seperti lumba-lumba(dolphin), penyu dan bentuk pulau weh. I juga menjual produknya melalui media sosial, toko-toko souvenir yang ada di Sabang dan pesanan dari konsumen.”Dulu awalnya pernah dipasarkan keluar Kota Sabang, tetapi sekarang udah gak lagi karena harga produk kalah saing dengan produk orang lain, jadi sekarang jualnya di toko-toko, di bazar dan melalui pesanan juga”, katanya.
Dalam mengembangkan usahanya ia mengaku memiliki kendala, dimana produknya belum mampu diproduksi lebih banyak jika permintaan pasar tinggi, karena masih menggunakan alat seadanya. Serta persaingan sesama produk yang dijual dengan harga jauh lebih murah dari produknya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....