Ekonom Sebut Rupiah Jadi Penyangga Utama Tekanan Ekonomi Global

  • 29 Mei 2026 08:47 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah di tengah tingginya tekanan ekonomi global dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan memburuknya fundamental ekonomi Indonesia. Sejumlah ekonom menilai kondisi saat ini lebih dipengaruhi kombinasi tekanan eksternal, arah kebijakan domestik, serta proses penyesuaian ekonomi yang belum berjalan seimbang.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, mengatakan pergerakan rupiah saat ini berada dalam fase overshooting, yakni kondisi ketika pelemahan nilai tukar bergerak lebih dalam dibandingkan kondisi fundamental jangka panjang ekonomi nasional.

Menurut Fakhrul, pasar keuangan tidak hanya melihat data ekonomi terkini, tetapi juga menilai arah kebijakan pemerintah, konsistensi respons, serta kemampuan menjaga stabilitas di tengah perubahan ekonomi global yang semakin cepat.

“Pasar keuangan tidak hanya membaca data hari ini. Pasar membaca arah kebijakan, kredibilitas respons, dan kemampuan negara menjaga stabilitas di tengah perubahan global yang sangat cepat,” ujar Fakhrul dalam keterangannya sebagaimana dilansir Infopublik, Kamis 28 Mei 2026.

Ia menjelaskan tekanan terhadap rupiah saat ini muncul karena nilai tukar menjadi saluran penyesuaian utama dari berbagai tekanan ekonomi yang seharusnya tersebar ke sejumlah sektor lain.

Dalam kondisi normal, kenaikan harga energi global biasanya akan tercermin pada inflasi, beban fiskal, harga domestik hingga nilai tukar. Akan tetapi, ketika pemerintah menahan penyesuaian harga domestik demi menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas sosial, sebagian tekanan akhirnya berpindah ke pasar valuta asing.

“Rupiah akhirnya menjadi shock absorber utama. Inflasi ditahan, harga energi ditahan, tetapi tekanan ekonominya tidak hilang. Tekanan itu pindah ke kurs,” katanya.

Fakhrul menyebut kondisi tersebut sejalan dengan teori Dornbusch Overshooting, yakni ketika harga domestik bergerak relatif kaku sementara pasar keuangan bereaksi cepat sehingga nilai tukar berfluktuasi lebih ekstrem dibandingkan fundamental ekonomi sebenarnya.

Meski demikian, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Inflasi tetap terkendali, sektor perbankan masih sehat, dan pertumbuhan ekonomi nasional masih berada pada jalur positif.

“Yang sedang diuji pasar saat ini bukan hanya fundamental ekonomi, tetapi juga kredibilitas kebijakan dan keberadaan policy anchor yang memberi kepastian di tengah ketidakpastian global,” ujarnya.

Menurut Fakhrul, tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi eksternal, penguatan dolar Amerika Serikat, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury, ketegangan geopolitik, hingga fragmentasi perdagangan dunia menjadi faktor dominan.

Sementara dari sisi domestik, pasar melihat adanya tantangan sinkronisasi antara kebijakan fiskal dan moneter.

“Ketika fiskal memilih menjaga inflasi tetap rendah dan penyesuaian harga sangat terbatas, maka BI dan rupiah harus bekerja jauh lebih keras,” katanya.

Ia menilai langkah Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi sinyal penting untuk menjaga kredibilitas kebijakan dan stabilitas pasar. Pendekatan yang lebih pre-emptive dan ahead the curve dinilai diperlukan agar tekanan terhadap rupiah tidak berkepanjangan.

“Kadang bank sentral harus bertindak sebelum inflasi benar-benar muncul,” ujarnya.

Fakhrul menegaskan stabilisasi rupiah tidak dapat dibebankan kepada Bank Indonesia semata. Menurutnya, diperlukan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang lebih seimbang agar pasar memperoleh kepastian terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.

“Pasar ingin melihat burden sharing yang lebih seimbang. Jangan semua tekanan ditanggung rupiah dan BI,” kata Fakhrul.

Ia juga mengingatkan tekanan nilai tukar dan tingginya biaya dana mulai berdampak terhadap sektor riil. Banyak industri manufaktur dan sektor domestik masih bergantung pada impor bahan baku, mesin, energi, dan pembiayaan.

Kondisi tersebut membuat dunia usaha menghadapi tekanan ganda ketika rupiah melemah bersamaan dengan tingginya suku bunga.

“Kalau kondisi seperti ini terlalu lama, maka perusahaan tidak hanya menghadapi tekanan margin, tetapi juga mulai menahan ekspansi, mengurangi investasi, dan lebih defensif terhadap perekrutan tenaga kerja,” ujarnya.

Meski begitu, dampaknya disebut tidak merata. Sektor komoditas berbasis ekspor dinilai lebih diuntungkan karena pendapatannya berbasis dolar Amerika Serikat, sementara sektor yang bergantung pada impor dan sensitif terhadap bunga menghadapi tekanan lebih besar.

Ke depan, Fakhrul menilai ruang penguatan rupiah masih terbuka apabila koordinasi kebijakan semakin solid dan pasar memperoleh kepastian terhadap arah fiskal serta stabilitas makro ekonomi nasional.

“Level rupiah saat ini menurut saya terlalu lemah dibanding kapasitas ekonomi Indonesia sebenarnya,” katanya.

Ia menambahkan, pengalaman pelemahan rupiah saat ini menjadi pelajaran penting bahwa stabilitas ekonomi tidak dapat ditopang hanya oleh satu institusi atau satu instrumen kebijakan saja. Sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, sektor energi, dan sektor riil menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah gejolak global.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....