Melihat Potensi Energi Raksasa di Tanah Rencong

  • 16 Mar 2026 21:29 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang - Pembahasan mengenai climate change, pemanasan global, dan isu lingkungan lain telah menjadi perhatian serius negara-negara di dunia. Aktivitas manusia menjadi penyebab utama perubahan iklim, efek dari pembakaran energi fosil.

Analis Program Energi Terbarukan, Mahasinul Fathani, ST, mengatakan bahwa pentingnya energi terbarukan untuk menggantikan dominasi energi yang ada saat ini, yaitu energi fosil, seperti batu bara, minyak, dan gas. “Oleh karena itu, energi terbarukan muncul untuk menggantikan energi yang telah ada sekarang. Energi terbarukan cenderung ramah lingkungan dengan emisi karbon yang lebih rendah dari energi fosil,” ujarnya dalam dialog bersama Pro 1 Banda Aceh,

Dunia saat ini tengah berjuang menekan kenaikan suhu bumi agar tidak melewati ambang batas 1,5 derajat Celsius. “Kenaikan suhu rata-rata di dunia sudah lebih dari 2 derajat celcius, sedangkan rekomendasi para ahli klimatologi kenaikan 1,5 derajat celcius merupakan target maksimal y ang harus dilakukan oleh negara-negara,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa di Aceh sendiri memiliki potensi energi terbarukan, seperti :

  • Energi air, dengan kapasitas mencapai 5.097 MW yang tersebar di 70 lokasi di seluruh provinsi Aceh.
  • Energi panas bumi (Geothermal), dengan 22 lapangan potensial dengan kapasitas sekitar 1.143 MW di sepanjang gugusan Bukit Barisan.
  • Energi surya dan bayu (angin), sebagai wilayah tropis, Aceh mendapatkan sinar matahari 11-12 jam sehari. Sementara itu, wilayah pesisir barat dan pegunungan Gayo menyimpan potensi angin yang besar.
  • Bionenergi, dengan memanfaatkan limbah pertanian seperti sawit dan sekam padi.

Ia juga menekankan bahwa gaya hidup hemat energi sangat penting diterapkan oleh masyarakat, dimulai dari perilaku hemat energi di rumah tangga, yang menyumbang hampir 90 persen konsumsi listrik Aceh.

Beberapa diantaranya, ia menyarankan pemakaian AC inverter karena jauh lebih hemat listrik, mengganti lampu konvensional dengan LED, kemudian menggunakan transportasi umum untuk mengurangi emisi karbon.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....