Mengenal Sejarah Dibalik Lahirnya Hari Radio Nasional
- 07 Sep 2024 17:38 WIB
- Sabang
KBRN, Sabang: Sejarah lahirnya hari radio nasional diperingati setiap tanggal 11 September, bertepatan pada tanggal yang sama juga diperingati sebagai hari lahirnya RRI (Radio Republik Indonesia) yang didirikan pada tanggal yang sama yaitu 11 September 1945. Maka setiap tanggal ini diperingati sebagai Hari radio Nasional atau Hari RRI.
Dikutip dari laman Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), bahwa Radio Republik Indonesia(RRI) didirikan sebulan setelah diberhentikannya radio yang berasal dari Jepang yaitu Hoso Kyoku tanggal 19 Agustus 1945. Sejak saat itu masyarakat tidak lagi mengetahui informasi apapun terkait apa yang dilakukan setelah Indonesia merdeka, terlebih lagi radio luar negeri mengabarkan, tentara Inggris menduduki wilayah Jawa dan Sumatera.
Beberapa orang yang dulunya bekerja pada radio Hoso Kyoku mengadakan pertemuan bersama pemerintah RI di Jakarta. Mereka menyadari bahwa peran radio sangan diperlukan dan sangat penting keberadaannya, sebagai alat komunikasi dan sebagai alat memberi informasi kepada rakyat.
Pada tanggal 11 September 1945, para wakil dari radio Hoso Kyuko bertemu bersama pemerintah Indonesia diantaranya Abdulrahman Saleh, Adang Kadarusman, Soehardi, Soetarji Hardjolukita, Soemarmadi, Sudomarmato, Harto dan Maladi. Dalam pertemuan tersebut terdapat beberapa keputusan, salah satu diantaranya, Abdulrahman Saleh sebagai ketua delegasi, menghimbau pemerintah untuk membangun satasiun radio sebagai alat komunikasi antara pemerintah dengan rakyat, sebab sekuta akan tiba di Jakarta pada akhir September 1945.
Alat komunikasi radio dipilih karena lebih cepat dan menghindari gangguann jika ada pertempuran. Kemudian delegasi menyarankan agar pemerintah RI meminta otoritas kepada Jepang untuk menggunakan alat-alat radio Hoso Kyoku, namun pengusulan ini awalnya tidak disetujui, karena peralatan tersebut sudah terdaftar sebagai inventaris sekutu, akan tetapi delegsi tatap bersikukuh.
Pada akhirnya Abdurahman Saleh merumuskan beberapa poin keputusan, diantaranya pertama dibentuknya Persatuan Radio Republik Indonesia(RRI) yang akan meneruskan penyiaran 8 stasiun yang dada di Jawa. Yang kedua mempersembahkan RRI kepada presiden Soekarno sebagai alat komunikasi dengan rakyat, serta yang ketiga, menyarankan semua hubungan RRI dan pemerintah disalurkan melalui Abdulrahman Saleh, dan pemerintah RI memenuhi rekomendasi tersebut dan siap membantu RRI meski berbeda pendapat.
Kemudian 8 delegasi kembali mengadakan pertemuan dirumah Adang Kadarusman, adapun para delegasi yang hadir adalah Soetaryo dari Purwokerto, Soemarmad dan Soedomomarto dari Yogyakarta, Soehardi dan Harto dari Semarang, Maladi dan Soetardi Hardjolukito dari Surakarta, serta Darya, Sakti Alamsyah dan Agus Marahsutan dari Bandung, Surabaya dan Malang tidak ikut serta karena tidak adanya perwakilan. Dan hasil akhir dari pertemuan tersebut adalah didirikannya RRI dengan Abdulrachman Saleh sebagai pemimpinnya, tepat pada tanggal 11 September 1945.
Kini hadirnya radio tidak hanya berfungsi sebagai alat penyampai pesan atau alat komunikasi, melainkan sebagai media hiburan. Berbagai acara disajikan untuk menghibur para pendengar mulai dari sandiwara radio hingga beragam siaran musik, dan lainnya, serta saat ini RRI berada diujung jari, yang dapat diakses melalui RRI Digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....