Kesehatan Mental Remaja, Akibat Pola Asuh Yang Keliru
- 22 Agt 2025 18:24 WIB
- Sabang
KBRN, Sabang: Masa remaja merupakan masa dimana seorang anak mengalami perubahan yang signifikan pada fisiknya, psikologis dan sosial. Pada masa ini remaja mencari jati diri mereka dengan dihadapkan berbagai tantangan salah satunya adalah emosional.
Di tengah masa pencarian jati diri, remaja tidak luput dari pola asuh dari orang tua. Namun tidak semua orang tua mengetahui kebutuhan untuk perkembangan anaknya, pola asuh yang salah malah akan menimbulkan tekanan bagi anak dan berujung pada gangguan kesehatan mental anak.
“Hari ini kita tidak bisa lagi menjadi orang tua seperti dulu sewaktu orang tua kita mengasuh kita, tidak bisa lagi hanya berbekal bagaimana pengasuhan yang diberikan orang tua kita, karena sekarang zaman terus berubah, tidak sama dulu dengan era masa kini. Jadi sudahlah ada perkembangan zama tetapi pola asuh masih dengan yang dahulu, dan juga banyak mewakili pengasuhan terhadap media, sehingga hari ini remaja kita membuat tingkah yang menyulitkan orang tua karena pola asuh yang keliru”, hal ini dikatakan oleh Ruliah Hanifah, S.Psi, M.Psi Psikolog Dosen Fakultas Kedokteran Prodi Psikolog USK Banda Aceh, dalam perbincangan bersama RRI, Selasa (19/8/2025).
Lebih lanjut ia menambahkan, orang tua harus wajib melek terhadap pengetahuan yang modern, di awali dengan sadar bahwa pengasuhan kita selama ini masih keliru dan masih mau terus belajar salah satunya melalui media sosial. Mengakui akan pola asuh yang keliru akan menambah keinginan untul dipelajari lebih dalam khususnya dalam pola asuh.
Ruliah juga menjelaskan, secara umum pola asuh pada anak ada 3 tipe yaitu:
· Pola asuh tipe otoriter, orang tua bersikap dengan sangat keras, banyak aturan, selalu harus ikut perintah orang tua, sehingga anak tidak dapat tumbuh dengan baik dan tidak diberikan kesempatan untuk menentukan ide. Anak cenderung akan patuh, kurang percaya diri dan sulit dalam mengambil keputusan dan akan berisiko mengalami masalah emosional.
· Pola asuh tipe permisif (serba boleh), orang tua memberikan kelonggaran bagi anak tanpa batasan, terlalu memanjakan anak dan tidak memberi kedisplinan. Sehingga anak tumbuh dengan tidak dapat mengambil keputusan yang jelas atau salah dan tumbuh dengantidak disiplin.
· Pola asuh tipe demokratis, dimana rumah mempunyai aturan yang jelas, aturan dibangun secara bersama dengan anggota keluarga dan setiap aturan anak tahu konsekuensinya, kalaupu anak dihukum maka anak akan tahu hukuman itu karena apa dan kenapa. Sehingga anak lebih memiliki kepercayaan, bertanggung jawab, mandiri dan memiliki kesehatan mental yang baik.
Dampak yang dihasilkan oleh pola asuh yang keliru terhadap kesehatan mental remaja yaitu:
· Perilaku yang menyimpang
· Kecemasan
· Depresi
· Tidak percaya diri
· Kesulitan dalam berinteraksi sosial
Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya, namun terkadang orang tua salah bagaimana cara menyayanginya, untuk itu berbenah diri, buat diri menjadi lebih berkualitas dalam menjadi orang tua, karena apabila projek pekerjaan saja yang disiapakan dengan mendetail, kenapa projek pengasuhan anak tidak diatur secara mendetail pula. “ Ibu dan ayah berperan bersama-sama, duduk bersama dan tugas masing-masing sama-sama karena PR kali ini tantangannya luar biasa dimana angka kenakalan remaja, angka kriminal remaja jauh diluar bayangan kita dan semua arah kenakalan nya dan perilaku yang menyimpang berasal dari baterai kosong dirumah, nah untuk itu mari mendampingi anak dengan sabar yang luas seluas samudera yang selalu ada buat anak, dampingi anak bukan menghakimi”, tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....