Begini Cara Menghadapi Anak Disabilitas Tantrum
- 23 Jun 2025 18:57 WIB
- Sabang
KBRN, Sabang: Menghadapi tantrum pada anak disabilitas membutuhkan pendekatan yang lebih sabar, lemah lembut, penuh kesabaran dan juga strategi yang tepat. Anak disabilitas yang tantrum bukan hanya sekedar meluapkan emosi mereka, tetapi juga merupakan bentuk komunikasi saat mereka tidak dapat mengungkapkan kebutuhannya.
Pada anak yang berkebutuhan khusus, tantrum ini merupakan sebuah gangguan yang perlu diterapi, agar perilaku tantrum ini tidak sering muncul dan bisa dikendalikan oleh anak. Karena setiap anak memiliki kebutuhan dan cara komunikasi yang berbeda, termasuk anak disabilitas, hal ini dikatakan oleh seorang psikolog Julia Elvina Ritonga, S.Psi, dan juga selaku tenaga pengajar di salah satu Perguruan Tinggi di Kota Sabang, Jum’at (20/6/2025).
Perilaku tantrum sangat berkaitan dengan ekspresi emosi anak termasuk anak disabilitas. mereka terkadang sulit untuk mengungkapkan suatu keinginannya seperti marah, lapar serta tidak nyaman. Penyebabnya adalah meliputi, rangsangan yang berlebihan (seumpamanya suara yang besar dan bising), ingin mendapatkan perhatian (caper), perubahan rutinitas dan juga frustasi karena tidak dapat berkomunikasi.
Ia juga menambahkan dalam menghadapi tantrum pada anak disabilitas juga harus dengan penuh cinta, dengan cara menenangkan diri jika anak sedang tantrum, karena anak sangat peka terhadap reaksi orang tua, jangan berteriak membalas mereka, bujuk mereka meski anak belum bisa diajak bicara.
Setiap jenis disabilitas berbeda, pendekatannya juga berbeda seperti anak dengan autisme, mereka tidak nyaman dengan sentuhan pada saat sedang tantrum dan membutuhkan ruang yang tenang dan nyaman, dan jika anak dengan gangguan berbicara dapat dibantu dengan gambar atau gerakkan tangan serta alat bantu komunikasi lainnya.
Tantrum bukan berarti semua kemauan anak harus dituruti, gunakanlah bahasa yang lembut pada mereka namun tegas, memberikan pilihan tapi harus terkendali. Beberapa anak akan merasa tenang dengan pelukan, usapan punggung, serta elusan di kepalanya, beri pujian pada saat anak berhasildalam mengendalikan dirinya, “tantrum pada anak disabilitas bukan sebuah kenakalan, namun sebuah bentuk komunikasi yang belum tepat, hadapilah dengan penuh cinta bukan denagn emosi dan kemarahan,” tutup Julia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....