Cara Mengatasi Anak Tantrum
- 20 Jun 2025 21:55 WIB
- Sabang
KBRN, Sabang: Tantrum adalah ledakan atau luapan emosi yang terjadi tiba-tiba dan intens, hal ini sering terjadi biasanya pada anak pra sekolah, terutama antara usia 1-5 tahun. Tantrum pada anak sering terjadi tanpa mengenal waktu, tempat dan situasi, oleh karena itu tak sedikit orang tua yang bingung dalam menghadapinya.
Umumnya tantrum pada anak disebabkan olah keterbatasan kemampuan anak dalam mengekspresikan perasaannya. Karena keterbatasan kemampuan anak dalam berkomunikasi kepada orang tuanya dengan meluapkan emosi mereka dengan cara menangis, meronta, menjerit, berguling-guling, memukul serta mengentakkan kaki dan tangan ke lantai.
Menurut seorang psikolog dan juga selaku tenaga pengajar di salah satu Perguruan Tinggi di Kota Sabang, Julia Elvina Ritonga, S.Psi mengatakan, biasanya tantrum ini merupakan ekspresi frustasi dari anak, dikarenakan mereka tidak mampu dalam mengkomunikasikan pikiran dan perasaannya.
"Bisa juga anak merasa bahwa orang tua mereka tidak peduli dengan kebutuhannya, tidak memahami keinginannya serta tidak mau mendengarkan mereka sehingga membuat mereka mengamuk atau kata lainnya adalah tantrum," ujarnya kepada RRI, Jum’at (20/6/2025).
Perilaku tantrum atau kata lain marah-marah ini muncul anak tersebt tidak mampu mengekspresikan emosinya, atau bisa jadi karena hal-hal yang kecil seperti tidak dapat atau gagal mengambil mainannya, menginginkan sebuah barang, atau anak tersebut tidak bisa mengkomunikasikan kebutuhannya seperti lapar, haus, mengantuk dan juga sakit. Selain itu juga tantrum adalah cara anak untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan, karena kebanyakkan orang tua akan mengabulkan keinginan mereka dikala mereka sedang tantrum.
Kondisi tantrum yang terjadi pada anak, tidak boleh dibiarkan secara terus menerus karena ini akan menjadi kebiasaan yang buruk dan akan berpengaruh pada tumbuh kembangnya. Serta orang tua harus tahu cara mengatasinya, “Caranya adalah yang pertama selaku orang tua harus selalu bersikap tenang jangan terpancing emosi dengan kemarahan anak, jangan memaksa anak untuk diam atau untuk berhenti menangis, atau adu kekuatan dengan sang anak. Kita juga bisa mengalihkan perhatian anak ke hal-hal yang menarik agar anak berhenti menangis atau bisa mengajak anak bermain atau juga bisa memberikan makanan dan cemilan favorit mereka”, tutup Julia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....