Black Water dan Grey Water, Apa Bedanya?
- 03 Jun 2025 16:33 WIB
- Sabang
KBRN, Sabang: Secara umum, sanitasi adalah segala upaya atau Tindakan yang dilakukan untuk menciptakan dan menjaga kondisi lingkungan yang bersih, sehat, dan aman demi mencegah penyakit ddan meningkatkan kualitas hidup manusia. Sanitasi mencakup penyediaan air bersih, pengelolaan limbah, pengelolaan kotoran manusia, serta kebersihan lingkungan secara umum.
Dalam pembahasan mengenai pengelolaan air dan sanitasi, dua istilah penting yang sering muncul adalah black water dan grey water. Keduanya merupakan kategori air limbah yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga atau komersial, namun punya karakterisitik dan tingkat kontaminasi berbeda.
Budi Kurnia, selaku Kepala Bidang Penyehatan Lingkungan Pemukiman dan Air Minum (Kabid PLP-AM) menjelaskan kedua perbedaan istilah tersebut. “Black water merupakan kategori air limbah yang berasal dari kamar mandi, berisi urin dan tinja. Sedangkan grey water merupakan air limbah hasil dari memasak, mandi dan mencuci. Kedua limbah ini harus dikelola dengan baik, karena jika dikelola, efek terhadap lingkungan bisa sangat buruk, bisa menyebabkan diare bahkan stunting” terangnya dalam dialog dengan topik Sanitasi Aman, Hidup Nyaman: Perempuan Sebagai Agen Perubahan di Pro 1 Banda Aceh, Senin (2/6/2025).
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa sanitasi di banda aceh sudah dilaksanakan namun pengelolaannya masih belum maksimal. Contohnya, limbah rumah tangga yang langsung dibuang ke saluran pembuangan, padahal agar lebih efektif, lemak buangan hasil memasak harus dipisah atau disaring terlebih dahulu agar tidak menyumbat saluran pembuangan nantinya.
Dalam kesempatan yang sama, Ika Astuti, Pendamping Pelaksana Implementasi Unit (PIU) Program Sanitasi Kota Banda Aceh juga membenarkan bahwa sanitasi rumah tangga di banda aceh masih minim, namun di beberapa Lokasi perumahan sudah mulai sadar akan pengelolaan limbah rumah tangga.
“Ada contoh kasus di Seutui, ada komunitas pengelola IPAL komunal yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga. Mereka menyadari bahwa limbah ini tidak ada pilihan selain mereka harus merawatnya, karena kondisi perumahan sangat padat. Bagi mereka IPAL komunal sangat berguna dan merupakan pembuangan untuk black water dan grey water,” ujar Ika Astuti.
Ia juga mengatakan bahwa perempuan lebih aware dan tanggap mengenai permasalah limbah rumah karena seperti yang diketahui bahwa sebagian besar perempuan sangat dekat dengan urusan domestik. Hal ini menjadikan perempuan memiliki kesempatan menjadi agen sosial dalam hal sanitasi,” imbuhnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....