Herbisida, Ancaman atau Sahabat Bagi Pertanian ?

  • 22 Mei 2025 20:55 WIB
  •  Sabang

KBRN, Sabang: Herbisida merupakan sejenis bahan kimia yang dirancang khusus untuk mengendalikan atau menghambat pertumbuhan gulma (tumbuhan pengganggu). Tujuannya adalah untuk memudahkan petani dalam membersihkan area lahan dari tumbuhan liar, sehingga tanaman utama dapat tumbuh dengan baik, dan menghasikan panen yang optimal.

Dalam dunia pertanian di era masa kini, herbisida menjadi salah satu alat yang sangat penting untuk pembasmi gulma yang menghambat pertumbuhan gulma.”Herbisida ini digunakan oleh petani untuk meracuni gulma seperti rumput dan ilalang sebelum mereka menggunakan lahan tersebut untuk bercocok tanam, agar tanaman yang hendak ditanam tumbuh dengan baik tanpa ada gangguan dari gulma”, ujar Andi Aris Muhidin, SP, sebagai Penyuluh Pertanian Lapangan Wilayah Kerja Gp. Keuneukai Kecamatan Suka Makmue Kota Sabang, kepada RRI, Kamis (22/5/2025).

Ia menambahkan herbisida sangat penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian dengan mengendalikan gulma secara efektif. Selain itu petani memilih untuk lebih banyak menggunakan herbisida karena lebih menghemat waktu dalam membasmi gulma dan tenaga serta tidak mengeluarkan biaya yang besar, dan herbisida juga dapat membantu tanaman utama mendapatkan cahaya, nutrisi dan air yang cukup tanpa adanya tanaman pengganggu tersebut.

Dalam penggunaannya herbisida ada beberapa tahapan diantaranya dosis pemakaian dimana dengan penggunaan dosis yang tepat maka pertumbuhan tanaman akan tumbuh dengan optimal. Jika penggunaannya tidak tepat atau berlebihan maka akan membawa dampak yang serius seperti kerusakkan lingkungan, dimana herbisida yang terbawa air hujan mencemari tanah dan air, membahayakan organisme lain seperti serangga yang menguntungkan dan hewan liar.

Penggunaan herbisida secara terus menerus dapat mengakibatkan residu dari herbisida tertinggal ditanah dan memberikan efek bagi tanah yaitu struktur tanah akan terganggu dari tanah biasanya gembur menjadi padat dan pori-pori tanah hilang yang mengakibatkan upenyerapan unsur hara terganggu, sehingga tanaman tidak tumbuh maksimal. Sedangkan efek bagi petani, jika sedang melakukan penyemprotan selalu harus waspada terhadap efek yang ditimbulkan dari herbisida seperti terhirup dan terkena kulit.

“Setelah penggunaan herbisida, efeknya gulma-gulma tersebut akan mati sekitar 2 atau 3 hari, setelah itu petani akan melakukan balik tanah menggunakan cangkul atau traktor. Setelah lima hari, dilakukan pemupukkan awal dan dilakukan pengujian zat keasaman tanah (pH), jika pH keasaman tanah tinggi maka akan diberikan dolomit (pengapuran) untuk menetralkannya, dan melalui prosedur tahapannya, setelah lima belas hari pemakaian herbisida, baru dilakukan penanaman”, tambahnya.

Ia berharap kepada petani alangkah baiknya dalam penggunaan herbisida jangan melampaui batas yang telah ditentukan, apabila memang tidak dapat dihindari setidaknya dapat mengurangi pemakaiannya, tetapi tetap tidak dianjurkan menggunakan herbisida untuk menjaga struktur dan hal-hal yang ada dalam tanah, tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....