Musim Kemarau Tapi Sering Hujan? Ini Penjelasan BMKG
- 08 Mei 2025 18:02 WIB
- Sabang
KBRN, Sabang: Indonesia diprediksikan masuk musim kemarau pada periode April hingga Juni 2025. Meski demikian, hingga minggu pertama Mei 2025, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih sering terjadi, khususnya di wilayah Aceh. Lantas, apa yang menyebabkan hujan masih berpotensi terjadi meski memasuki musim kemarau?
Betsi, prakirawan BMKG Provinsi Aceh, menjelaskan, adanya pengaruh belokan angin serta konvergensi yang menjadi penyebab utama terjadinya hujan. Selain itu, Gelombang Ekuatorial Rossby dapat menyebabkan peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan.
“Walaupun beberapa daerah di Aceh telah memasuki musim kemarau, tapi diprediksi beberapa hari mendatang wilayah Aceh masih di guyur hujan. Selain pengaruh belokan angin dan konvergensi, gelombang ekuatorial Rossby berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan konvektif yang meneyebabkan curah hujan tinggi,” ungkapnya, Kamis (8/5/2025).
Betsi mengatakan, Anomali suhu muka laut yang hangat (warm sea surface temperature anomaly) diwilayah barat Aceh, yang meningkatkan potensi penguapan atau penambahan masa uap air. Hal inilah yang juga menjadi memicu terjadinya peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah Aceh, sehingga mengakibatkan curah hujan tinggi di musim kemarau.
BMKG memperkirakan musim kemarau tahun 2025 diprediksi akan berlangsung lebih singkat dari biasanya di sebagian besar wilayah Indonesia. Hal ini berdasarkan pemantauan dan analisis dinamika iklim global dan regional yang dilakukan BMKG hingga pertengahan April 2025. Diperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Juni hingga Agustus 2025.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....