Menyingkap Perbedaan Tunarungu dan Tuli

  • 17 Des 2024 22:50 WIB
  •  Sabang

KBRN, Sabang: Tunarungu dan tuli merupakan suatu kondisi dimana terganggunya alat pendengaran. Meskipun terdengar sama akan tetapi kedua istilah ini mempunyai makna yang berbeda.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) istilah tunarung berarti rusak pendengaran, sedangkan tuli berarti tidak dapat mendengar dan memerlukan bahasa isyarat untuk berkomunikasi. Dilansir dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) tunarungu termasuk dalam kategori cacat rungu dan cacat fisik yang diakibatkan oleh gangguan fungsi tubuh seperti pendengaran, gerak tubuh, gangguan bicara dan penglihatan.

Sedangkan menurut Reefani, tunarungu adalah suatu kondisi dimana individu memiliki kelainan pendengaran baik permanen atau tidak permanen yang berdampak sangat signifikan terhadap kemampuannya berinteraksi dan berkomunikasi pada masyarakat dan lingkungannya. Karena individu tunarungu memiliki hambatan dalam pendengaran maka mereka dapat disebut sebagai tunawicara.

Penyebab dari tunarungu bisa beragam seperti mulai dari faktor genetik, cedera, infeksi serta penuaan, dan tingkatan tunarungu bervariasi mulai dari ringan hingga kondisi yang berat. Dan tunarungu juga akan berdampak pada perkembangan sosial, bahasa, emosional dan kognitif.

Menurut World Health Organization (WHO) penyebutan ini berbeda dikarenakan, masalah pendengaran menggambarkan sejauh mana mereka dapat mendengarkan suara atau tidak mendengar sama sekali. Mereka yang tuli atau deaf menurut WHO adalah dimana seseorang yang mengalami ganguan pendengaran yang berat(terdengar sedikit atau tidak dengar sama sekali), sedangkan menurut Cleveland Clinic, mereka yang tuli dapat mendengar sedikit atau tidak sama sekali.

Kata “Tuli” sering digunakan sebagai sinonimnya kata tunarungu, orang tuli sering menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan orang lain. Bagi mereka yang tuli untuk berkomunikasi agak sulit, karena hanya 30% dari mereka dapat menangkap gerak bibir dari lawan bicara atau karena terlalu cepat dalam berbicara atau juga ada kata-kata yang mirip dalam pengucapan.

Dalam penanganan masalah pendengaran ini tergantung pada tingkat keparahannya, penanganan itu meliputi:

· Alat bantu dengar, dengan alat ini dapat memperkuat suara yang masuk ke telinga.

· Terapi wicara, dengan terapi ini dapat membantu meningkatkan kemampuan dalam berbicara dan memahami bahasa.

· Implan koklea, dapat merubah signal listrik yang terkirim ke otak yang ditafsir sebagai suara oleh otak.

· Pendidikan khusus, pendidikannya disesuaikan dengan kebutuhan mereka tunarungu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....