Budaya Aceh Dinilai Mulai Luntur di Kalangan Anak Muda

  • 27 Mei 2026 17:27 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang – Aceh kaya yang bernilai sejarah, sosial dan agama yang sangat kuat. Mulai dari bahsa daerah, seni tari, adat istiadat dan sopan santun dalam kehidupan sehari-hari yang telah ada sejak zaman dulu. Perubahan gaya hidup menjadi faktor yang utama dalam lunturnya budaya lokal, saat ini anak muda banyak terpengaruh oleh budaya asing yang masuk melalui media sosial dan teknologi digital.

Dosen Prodi Perbandingan Mazhab dan Hukum Fakultas Syariah UIN Ar-Raniry, Dr. Jamhuri Ungel, MA menilai budaya Aceh mulai mengalami pergeseran di kalangan generasi muda akibat pengaruh teknologi dan perubahan pola pendidikan masyarakat. Hal itu disampaikannya dalam dialog “Hak Anak dalam Konteks Hukum dan Budaya Aceh” di program Idola RRI Banda Aceh, Minggu 24 Mei 2026.

Menurut Jamhuri, salah satu tanda lunturnya budaya Aceh terlihat dari semakin banyak anak muda yang tidak mampu berbahasa Aceh. Padahal, bahasa merupakan identitas utama suatu daerah. “Kalau kita bisa bahasa Aceh, maka kita dikatakan orang Aceh. Sekarang banyak anak-anak Aceh yang tidak bisa lagi bahasa Aceh, ini sebenarnya kehilangan budaya,” kata Jamhuri.

Ia menjelaskan, perubahan pola pendidikan turut memengaruhi kondisi tersebut. Banyak anak sejak usia dini hingga remaja lebih lama berada di lingkungan pendidikan formal maupun pesantren sehingga interaksi budaya di lingkungan kampung semakin berkurang.

Padahal, menurutnya, penanaman adat dan budaya tidak hanya diperoleh melalui pelajaran di kelas, melainkan melalui proses interaksi sosial sehari-hari di lingkungan masyarakat. “Budaya itu bukan sekadar materi pelajaran, tetapi proses pencontohan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Jamhuri mengatakan, perkembangan teknologi juga menjadi tantangan besar dalam pembentukan karakter anak. Anak-anak kini lebih banyak mengakses media sosial dan konten digital dibandingkan mempelajari nilai agama maupun budaya lokal.

Ia menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama agar generasi muda Aceh tidak kehilangan identitas budaya di tengah perkembangan zaman. “Teknologi tidak salah, tetapi jangan sampai kita meninggalkan hal-hal fundamental yang menjadi prinsip kehidupan masyarakat Aceh,” katanya.

Ia juga mengajak pemerintah daerah untuk menyediakan lebih banyak fasilitas ramah anak dan ruang interaksi sosial yang mendukung tumbuhnya nilai budaya di tengah masyarakat. Menurutnya, lingkungan bermain dan ruang publik yang sehat dapat membantu anak membangun tata krama, akhlak, dan rasa kebersamaan sejak usia dini.

Selain itu, lembaga pendidikan diharapkan ikut memperkuat pengajaran budaya lokal, termasuk penggunaan bahasa Aceh dalam aktivitas keseharian. “Jangan sampai kita terlalu mengikuti dunia modern sehingga menghilangkan budaya dan adat yang sudah diwariskan sejak dulu,” ujar Jamhuri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....