Hilangnya Pemanfaatan Isi Buah Kapuk Sebagai Kebutuhan Sekunder
- 04 Jun 2024 13:27 WIB
- Sabang
KBRN, Sabang : Dalam kehidupan, kebutuhan sekunder menjadi hal sangat penting dalam suatu keluarga, seperti radio, televisi, tempat tidur, lemari dan lain sebagainya. Namun kebutuhan yang sangat mendasar adalah tempat tidur atau alas untuk tidur sangatlah penting saperti kasur atau biasa di sebut dengan tilam.
Pada artikel kali ini akan saya informasikan kepada anda, yaitu bahan dasar pembuatan kasur atau tilam sebagai alas tidur anda. Banyak jenis dalam pembuatan tilam ada berbahan dasar busa pegas dan berbahan kapas atau dari bahan kapuk dari buah pohon randu.
Anda pasti pernah melihat pohon randu atau sering di sebut dengan pohon kapuk, dengan bentuk buah muda yang menyerupai jagung dan mimiliki banyak biji ketika menua dan mengering sehingga menjadi kapuk yang menyerupai kapas putih, tetapi buah randu ini memiliki corak warna yang berbeda dengan kapas.
Warna kapas putih bersih dan warna kapuk putih agak kecoklatan serta memiliki biji di dalamnya, sebagian masyarakat memanfaatkan buah randu ini sebagai bahan dasar untuk alas tidur saperti kasur, bantal dan guling bahkan ada juga sebagai bahan dasar textil. Dengan tinggi pohon bisa mencapai 10-30 meter ini tentu sangat berbeda dengan pohon kapas yang tingginya hanya 2-4 meter, selain isi buah randu atau kapuk ternyata biji nya juga dapat di olah menjadi Minyak pelumas yang masih di nanti dunia untuk segera di produksi secara besar-besaran.
Di kutip dari sumber Indonesia.go.id Kapuk Jawa mulai ditanam pada masa kolonial Belanda yaitu sekitar 1900-an. Pada tahun 1928 mulai dikirim ke beberapa negara dan mencapai puncaknya pada tahun 1936-1937 dimana kapuk Jawa mampu memenuhi 85% kebutuhan dunia. Saingan utamanya adalah kapuk dari Thailand.
Pada saat Indonesia merdeka, sampai era tahun 1990-an, kapuk Jawa masih berproduksi dengan baik untuk pasar lokal. Mereka menggunakannya terutama sebagai kasur tidur. Namun pada era 2000-an, dimana industrialisasi berada pada masa puncak, kebutuhan masyarakat pada kapuk Jawa berangsur turun. Jika dulu masyarakat banyak memakai kasur dari kapuk, kini mereka lebih senang kasur dengan bahan dasar busa dan pegas.
Namun dampak akibat dampak menurunnya permintaan akan buah randu maka Para petanipun juga mulai enggan menanam kapuk karena dia hanya bisa dipanen sekali dalam setahun, meski Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) Balitbangtan Kementrian Pertanian masih rajin memperkenalkan bibit-bibit unggul kapuk Jawa. Petani di Gabus, Pati, dan penghasil kapuk randu lainnya kini lebih suka menanam tanaman musiman seperti ketela pohon atau palawija lainnya karena lebih cepat mendatangkan uang dibanding randu.
Sejak itulah banyak batang pohon randu ditebang untuk bahan utama pembangunan rumah penduduk bahkan ada juga di suatu daerah memproduksi perahu batok dengan bahan dari pohon randu, dan mulailah Pabrik pengolahan biji randupun mengalami penurunan produksi dan banyak yang berhenti beroperasi. Jika tahun 1990-an produksi kapuk randu bisa mencapai 80 ribu ton dengan nilai ekspornya mencapai 28 ribu ton pertahun, maka pada tahun 2012 nilai ekspor itu menurun tajam menjadi hanya 1500 ton pertahunnya.
Berbeda halnya di negara Filipina dan Thailand yang sangat menyukai daun, bunga dan buahnya yang masih muda karena bisa dimakan. Daun mudanya banyak mengandung kalsium. Kulit buahnya sering dijadikan bahan bakar untuk memasak. Daun, akar pohon randu bisa dibuat obat diare dan lain-lain dengan cara di rebus.
Tak hanya itu, Indonesia juga mengekspor bungkil biji kapuk. Biji kapuk yang sudah diolah menjadi minyak pelumas dan tersisa hanya ampas yang kemudian dibersihkan dan diolah lagi dengan beberapa perasa sehingga menjadi pakan ternak. Negara seperti Korea Selatan mendatangkan pakan ternak dari bahan bungkil biji randu dari Indonesia sampai sekarang. /Sumber portal informasi Indonesia (sumber indonesia.go.id)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....