Penggunaan AI Berlebihan Dapat Melemahkan Kognitif Manusia

  • 30 Agt 2026 05:09 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang - Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) secara berlebihan berpotensi memengaruhi perkembangan kemampuan kognitif manusia. Ketergantungan terhadap AI dapat membuat seseorang semakin jarang melatih kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan mengingat informasi.

Psikolog Rumah Sakit Hermina Aceh, Silvia Eva Juarni, S.Psi., M.Psi., mengatakan AI pada dasarnya merupakan teknologi yang dirancang untuk membantu manusia. Namun, penggunaan yang tidak tepat dapat membuat seseorang menyerahkan hampir seluruh proses berpikir kepada teknologi.

“Pemakaian yang kurang tepat yang membuat AI itu menjadi negatif. Sebenarnya bukan AI-nya yang negatif, tetapi kita yang tidak bisa mengontrol pemakaiannya,” ujar Silvia dalam Dialog Asokaya RRI Banda Aceh, Sabtu 15 Agustus 2026.

Menurutnya, kemampuan kognitif merupakan kemampuan manusia dalam berpikir, termasuk menilai, mengingat, memecahkan masalah, dan membuat keputusan. Kemampuan tersebut berkembang secara bertahap sejak seseorang lahir dan membutuhkan stimulasi sesuai tahapan usia.

Silvia menjelaskan, pada anak usia tujuh hingga sebelas tahun, kemampuan kognitif berkembang sangat pesat. Pada fase ini, anak membutuhkan banyak kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungan, mencoba sesuatu, melakukan kesalahan, dan menemukan solusi. Proses mencoba dan gagal tersebut dinilai penting karena melatih kemampuan memecahkan masalah, ketelitian, daya tahan, serta kemampuan untuk terus berusaha hingga menemukan jawaban yang tepat.

“Anak harus mencoba, salah, mencoba lagi sampai betul. Di situ ada proses pemecahan masalah, daya tahan, ketelitian, dan bagaimana dia berusaha dari salah sampai benar,” katanya.

Ia menambahkan, ketergantungan terhadap AI sejak usia sekolah dapat membuat kemampuan tersebut kurang terasah. Misalnya, ketika seluruh pekerjaan rumah dan tugas sekolah langsung diserahkan kepada AI, anak kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir logis dan kritis.

Terlebih, pada usia 12 tahun ke atas, anak mulai memasuki tahap operasional formal, yakni kemampuan untuk berpikir secara logis, abstrak, dan melakukan analisis yang lebih kompleks. “Kalau semua tugas atau pekerjaan rumah dikerjakan dengan AI, otomatis kemampuan yang sebenarnya sudah berada di tahap operasional formal tidak terlatih,” ujarnya.

Menurut Silvia, kondisi tersebut dapat berlanjut hingga dewasa. Orang yang sejak awal terbiasa mengandalkan AI dapat mengalami kesulitan ketika harus menyelesaikan pekerjaan secara mandiri, terutama ketika teknologi tersebut tidak tersedia.

Karena itu, orang tua memiliki peran penting dalam memastikan anak tetap mendapatkan stimulasi kognitif. Orang tua disarankan menyediakan waktu untuk mendampingi anak belajar dan mengulang kembali materi yang diperoleh di sekolah. Stimulasi tidak harus dilakukan dalam waktu lama, menurutnya, sekitar 15 hingga 20 menit setiap hari dapat dimanfaatkan orang tua untuk mengajak anak berdiskusi, mengulang pelajaran, atau menyelesaikan persoalan sederhana.

Ia juga mengingatkan agar penggunaan perangkat dan AI disesuaikan dengan kebutuhan, anak perlu diberikan ruang untuk bermain, bereksplorasi, bertanya, serta mengalami proses trial and error tanpa selalu mendapatkan jawaban instan dari teknologi. Dengan demikian, AI tidak menjadi pengganti kemampuan berpikir manusia, tetapi tetap ditempatkan sebagai alat bantu yang digunakan secara bijak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....