AI Bukan Lawan, Gunakan Sebagai Alat Bantu Berpikir
- 28 Agt 2026 13:16 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang - Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak selalu memberikan dampak negatif bagi perkembangan kognitif manusia. Jika digunakan secara tepat, teknologi tersebut justru dapat membantu meningkatkan efisiensi kerja, memperluas wawasan, menemukan ide, dan mengurangi risiko kesalahan.
Psikolog Rumah Sakit Hermina Aceh, Silvia Eva Juarni, S.Psi., M.Psi., mengatakan persoalan utama bukan terletak pada teknologi AI, melainkan bagaimana manusia menggunakannya. “AI itu hanya membantu. Misalnya kita sudah menuangkan ide, kemudian kita ragu dengan apa yang sudah dituangkan, boleh mencari second opinion dari AI,” ujar Silvia dalam Dialog Asokaya RRI Banda Aceh, Sabtu 15 Agustus 2026.
Menurut Silvia, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk memperoleh pendapat kedua atau second opinion setelah seseorang terlebih dahulu menyelesaikan pekerjaannya dengan kemampuan sendiri. AI memiliki sejumlah manfaat, antara lain membantu menganalisis informasi, menghemat waktu, meningkatkan akurasi, menambah wawasan, serta memberikan ide atau alternatif dalam menyelesaikan pekerjaan, namun manfaat tersebut akan optimal jika pengguna tetap mempertahankan kemampuan berpikir mandiri.
Ia mencontohkan, seseorang yang sedang menyusun laporan sebaiknya terlebih dahulu menentukan gagasan dan isi laporan berdasarkan pemikirannya sendiri. Setelah itu, AI dapat digunakan untuk membantu memeriksa atau memberikan masukan terhadap hasil pekerjaan tersebut, dengan demikian AI berfungsi sebagai pendukung, bukan pengganti kemampuan kognitif manusia.
AI dapat dimanfaatkan dalam proses belajar anak. Misalnya, ketika orang tua kesulitan menjelaskan suatu hal kepada anak, AI dapat membantu menyediakan ilustrasi atau animasi yang membuat informasi lebih mudah dipahami, “Boleh dibantu AI. Jadi sesuai kebutuhan saja, tidak harus semuanya dibantu AI,” katanya.
Silvia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan AI sebagai pengganti hubungan sosial. Menurutnya, AI dapat digunakan untuk mencari informasi atau membantu pekerjaan, tetapi tidak dapat menggantikan interaksi manusia yang melibatkan empati dan hubungan emosional secara nyata.
Ketergantungan terhadap AI, termasuk menjadikannya tempat utama untuk mencurahkan persoalan pribadi, dinilai dapat menimbulkan persepsi yang keliru mengenai hubungan manusia dengan teknologi. Karena itu, masyarakat perlu memiliki kontrol diri dalam menggunakan AI.
Teknologi sebaiknya digunakan untuk hal-hal yang memang membutuhkan bantuan, sementara pekerjaan yang masih dapat dilakukan secara mandiri tetap dikerjakan dengan kemampuan sendiri.
Manusia memiliki kemampuan berpikir, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah yang harus terus dilatih. AI seharusnya menjadi alat untuk memperkuat kemampuan tersebut, bukan membuat manusia kehilangan kemandirian, “Keluarkan dulu idenya kalau sudah jadi pekerjaan, boleh meminta saran dari AI dan begitulah bijaknya menggunakan AI,” ujarnya.
Ia berharap generasi mendatang mampu memanfaatkan perkembangan teknologi tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis, kreatif, mandiri, dan mampu memecahkan persoalan secara langsung. Dengan penggunaan yang bijak, AI dapat menjadi kawan yang membantu pekerjaan manusia, bukan lawan yang membuat manusia bergantung dan kehilangan kemampuan kognitifnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....