Edukasi Kesehatan Reproduksi Penting Cegah HIV pada Remaja

  • 26 Agt 2026 15:01 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang - Edukasi kesehatan reproduksi sejak dini dinilai penting untuk membekali anak dan remaja menghadapi perubahan fisik, perkembangan psikologis, serta berbagai pengaruh lingkungan dan media digital.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, drg. Supriady.R. M.Kes., mengatakan pendidikan kesehatan reproduksi harus dilakukan secara bertahap sesuai usia anak. “Dari sejak dini, dari balita sampai enam tahun, mengenalkan alat reproduksi. Kemudian mana yang boleh dan mana yang tidak boleh disentuh,” kata drg. Supriady dalam Dialog Perempuan dan Anak RRI Banda Aceh, Senin 24 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, anak perlu diajarkan mengenai bagian tubuh yang bersifat pribadi, batasan sentuhan, serta siapa saja yang boleh membantu ketika anak membutuhkan bantuan dalam hal tertentu. Memasuki usia sekolah, sekitar tujuh hingga dua belas tahun, orang tua dapat mulai menjelaskan perubahan tubuh yang terjadi selama masa pubertas, termasuk menstruasi pada anak perempuan dan mimpi basah pada anak laki-laki.

Sementara pada usia remaja, edukasi dapat dikembangkan melalui dialog dua arah mengenai kesehatan reproduksi, pergaulan, penyakit menular seksual, serta konsekuensi dari perilaku seksual berisiko. “Tidak hanya orang tuanya saja yang ngobrol, anaknya diam saja, tapi minta bagaimana pendapat si anak terkait dengan kesehatan reproduksi,” ujarnya.

drg. Supriady menambahkan, orang tua juga perlu mengawasi penggunaan gawai dan konten digital yang dikonsumsi anak. Pengawasan tersebut penting karena perkembangan teknologi membuat anak semakin mudah mendapatkan berbagai informasi tanpa penyaringan.

Selain keluarga, layanan kesehatan juga memiliki peran dalam memberikan pendampingan kepada remaja. Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh menyediakan layanan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja atau PKPR di fasilitas kesehatan.

Layanan tersebut mencakup konseling mengenai kesehatan reproduksi, tumbuh kembang, serta persoalan psikologis remaja. Tersedia pula layanan konseling dan tes HIV secara sukarela dengan jaminan kerahasiaan identitas pasien.

drg. Supriady mengatakan masyarakat tidak perlu takut memanfaatkan layanan kesehatan apabila memiliki kekhawatiran terkait HIV maupun kesehatan reproduksi. “Kalau misalnya sudah pernah melakukan dan ada penyesalan, jangan takut. Tetap melakukan konseling dengan layanan kesehatan,” katanya.

Sementara itu, Daiyyah DSI Kota Banda Aceh Bidang rehabilitasi Mental dan Penyelamatan Generasi Muda Islam, Regina Fadilla, S.Psi, menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara orang tua dan anak dalam memberikan pendidikan seksual dan agama.

Menurutnya, pendidikan mengenai tubuh, aurat, privasi, serta batasan pergaulan sebaiknya diberikan sejak anak masih kecil dengan bahasa yang mudah dipahami. “Anak itu mendapatkan pendidikan seks yang terbaik, pertama adalah dari ibunya,” ujar Regina.

Ia mengatakan orang tua sebaiknya tidak menjadikan pembicaraan mengenai kesehatan reproduksi sebagai sesuatu yang tabu. Sebaliknya, anak perlu diberikan ruang untuk bertanya sehingga memperoleh informasi yang benar dari keluarga.

Regina juga mengingatkan orang tua untuk menghindari pendekatan yang hanya berisi larangan tanpa penjelasan. Dialog dan keteladanan dinilai lebih efektif dalam membangun pemahaman anak. “Jadi yang paling utama itu menurut saya adalah diberitahu penjelasan. Lebih banyak dialog,” katanya.

Dengan komunikasi yang terbuka, pendidikan agama dan moral yang seimbang, pengawasan penggunaan media digital, serta akses terhadap layanan kesehatan, keluarga diharapkan mampu menjadi benteng utama dalam melindungi anak dan remaja dari berbagai perilaku berisiko, termasuk penularan HIV.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....