Cara Mencegah agar tidak Kecanduan Rokok Vape

  • 03 Agt 2026 15:48 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang - Fenomena penggunaan vape di kalangan remaja menjadi perhatian serius berbagai kalangan. Berbagai survei menunjukkan bahwa usia pengguna rokok elektronik semakin muda, didorong oleh desain produk yang menarik, pilihan rasa yang beragam, serta promosi melalui media sosial dan influencer.

Menurut Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Hermina Aceh, dr. Vonna Yunira, Sp.P, penggunaan vape pada usia remaja justru membawa dampak yang lebih besar dibandingkan orang dewasa karena otak masih berada dalam tahap perkembangan. "Nikotin menghasilkan dopamin yang menjadi cikal bakal kecanduan. Sedikit saja kandungannya sudah dapat menyebabkan adiksi," ujarnya adalam Dialog Asokaya RRI Pro 4 Banda Aceh, Sabtu 27 Juni 2026..

Nikotin memengaruhi sistem penghargaan di otak sehingga seseorang merasa nyaman sesaat setelah menggunakannya. Lama-kelamaan otak akan bergantung pada nikotin untuk menghasilkan rasa nyaman tersebut, ketika kadar nikotin menurun, muncul keinginan kuat untuk kembali menggunakannya.

Kondisi inilah yang membuat banyak remaja awalnya hanya mencoba karena rasa penasaran atau ingin mengikuti tren, tetapi akhirnya sulit berhenti. Selain menyebabkan ketergantungan, nikotin juga berpotensi mengganggu konsentrasi belajar, daya ingat, kualitas tidur, hingga perkembangan fungsi otak pada remaja.

Menurut dr. Vonna, pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan larangan, peran keluarga menjadi kunci utama. Berbagai penelitian juga menunjukkan adanya kaitan antara penggunaan vape dengan gangguan sistem pernapasan dan peningkatan risiko penyakit jantung akibat efek nikotin terhadap tekanan darah dan denyut jantung.

Orang tua diharapkan memberikan teladan dengan tidak merokok di depan anak, membangun komunikasi terbuka, serta mengenali lingkungan pergaulan anak. Dukungan keluarga juga menjadi faktor penting bagi remaja yang ingin berhenti menggunakan vape maupun rokok konvensional.

Bagi mereka yang telah mengalami ketergantungan, terdapat beberapa metode berhenti merokok. Mulai dari berhenti secara langsung (cold turkey), mengurangi jumlah konsumsi secara bertahap, hingga terapi perilaku yang dipadukan dengan pendampingan tenaga kesehatan.

Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat memberikan terapi pengganti nikotin (nicotine replacement therapy) sesuai kebutuhan pasien agar proses berhenti merokok berjalan lebih nyaman dan terarah. "Yang paling penting adalah motivasi dari diri sendiri. Setelah itu dukungan keluarga dan pendampingan dokter akan sangat membantu keberhasilan berhenti merokok," ujar dr. Vonna.

Di era ketika vape sering dipersepsikan sebagai bagian dari gaya hidup modern, edukasi kesehatan perlu terus diperkuat. Masyarakat, khususnya remaja, perlu memahami bahwa di balik aroma yang harum dan desain yang menarik, vape tetap mengandung risiko kesehatan yang tidak boleh dianggap remeh, serta pencegahan sejak dini akan jauh lebih baik daripada harus menghadapi dampak penyakit kronis di kemudian hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....