Bukan Privasi Total, Ini Alasan Orang Tua Wajib Pantau Gawai Anak
- 17 Jun 2026 14:37 WIB
- Sabang
Kemajuan teknologi informasi saat ini telah mengubah proses pengasuhan anak dalam keluarga. Gadget dan jaringan internet yang dulunya merupakan barang mewah, kini sudah menjadi bak kebutuhan pokok. Tentunya, dunia digital ini juga menyimpan sisi gelap yang mengancam masa depan anak-anak jika diakses tanpa pengawasan ketat.
Jurnalis JH, Business and Community Lead Telkom AI Connect Aceh mengatakan bahwa salah satu fenomena yang paling mengkhawatirkan adalah efek domino dunia digital. “Pola ini biasanya diawali ketika anak-anak mulai mengalami kecanduan game online. Kemudian anak dipancing untuk melakukan transaksi di dalam game untuk membeli chip atau item tertentu,” ujarnya dalam dialog bersama RRI Pro 1 Banda Aceh, Minggu 10 Mei 2026.
Ketika si anak kehabisan uang dan merasa kecanduan, maka akan mudahnya tergiur dengan fitur pinjaman online. Lingkaran setan inilah yang sering terlewat oleh orang tua dalam pengawasannya.
Belum lagi, kehadiran kecerdasan buatan seperti ChatGPT atau Gemini yang bisa berbahaya jika dikonsumsi oleh anak-anak tanpa pendampingan. “Bahaya ketika anak menjaddikan AI sebagai satu-satunya sumber informasi utama tanpa validasi sumber yang jelas,” lanjutnya.
Lebih lanjut ia menegaskan bahwa memang cara untuk memfilter teknologi harus dengan manual. Artinya, orang tua harus benar-benar membatasi, atau biasa disebut dengan screen time. “Screen time adalah waktu yang dihabiskan oleh anak-anak di smartphone. Jadi, kalau screen time itu tidak dibatasi, mereka akan kecanduan,” ucapnya.
Orang tua juga didorong untuk memanfaatkan fitur keamanan seperti Parental Control atau Parent Monitoring untuk memantau aktivitas, riwayat pencarian, serta membatasi aplikasi yang dipasang anak di gawai.
Menurutnya, dalam konteks pengasuhan, sebelum anak menginjak usia baligh, tidak ada istilah privasi total. Orang tua wajib tahu dengan siapa anak berteman, termasuk mengetahui grup chat mereka untuk mencegah perilaku menyimpang.
Kemudian, jadilah orang tua yang bisa menjadi safe space buat anak, menjadi tempat pertama dan paling aman bagi anak untuk menumpahkan keluh kesahnya. Sehingga anak tidak melampiaskan masalah mereka ke media sosial atau justru curhat ke AI.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....