Memahami Krisis Identitas pada Remaja dan Cara Tepat untuk Bangkit

  • 11 Jun 2026 15:54 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang - Secara psikologis, krisis identitas merupakan ketidaktahuan atau ketidakmampuan seorang remaja untuk mendeteksi potensi, kapasistas, dan Batasan yang ada di dalam dirinya. Kondisi ini umumnya ditandai dengan munculnya keraguan terhadap kemampuan sendiri, kesulitan mengambil Keputusan, serta bingung dalam menentukan arah hidup.

Konselor, Anita Safitri, Amk, S.Psi mengatakan, banyak dari remaja kita, saat usianya sudah mencapai dewasa awal, mengalami quarter life crisis. “Mereka sering bertanya-tanya, ‘sebenarnya aku mau kemana sih? Sebenarnya cita-citaku apa sih? Benar ga jalan atau keputusan yang aku ambil ini?’, apalagi, pada tahap krisis identitas ini, remaja kita sering membandingkan dirinya dengan orang lain, sehingga akan memunculkan insecure dan krisis identitas makin parah,” jelasnya dalam dialog bersama RRI Pro 1 Banda Aceh, Kamis 7 Mei 2026.

Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa ada beberapa faktor yang memicu krisis identitas, seperrti misalnya pola asus yang banyak menuntut. Banyak orang tua yang terlalu memaksakan kehendaknya atau cita-cita kepada anak, sehingga membuat anak menjalani hidup tanpa passion dan membuat mereka kehilangan arah.

Selain itu, menjadi people pleaser, yaitu ingin diterima dalam sebuah kelompok atau circle membuat sebagian remaja takut berkata tidak dan rela mengubah sifat dan gaya hidupnya untuk menyenangkan orang lain. Kemudian ada juga faktor luka pengasuhan masa lalu. Bisa berupa kritik verbal maupun kekerasan fisik, dapat membekas dan menciptakan inner child yang terluka dan membuat anak tumbuh menjadi anak yang tidak pede.

Lalu, bagaimana kita keluar dari krisis identitas tersebut?

  • Praktikkan Self-Compassion (Memperlakukan Diri Sendiri dengan Baik), dengan cara ramah kepada diri sendiri, menyadari bahwa gagal adalah hal yang manusiawi, dan jujur mengakui serta menerima emosi negatif yang sedang dirasakan.
  • Berhenti Membandingkan Diri, sadari bahwa setiaporang memiliki latar belakang dan garis kesuksesan yang berbeda. Satu-satunya perbandingan yang sehat adalah membandingkan diri sendiri di masa lalu dengan masa sekarang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....