Masa Depan Gajah Sumatera di Tanah Aceh
- 08 Apr 2026 12:38 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang - Aceh merupakan salah satu benteng terakhir bagi keanekaragaman hayati dunia. Namun, di balik rimbunnya hutan Serambi Mekkah ini, sebuah krisis besar sedang mengintai Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus).
Menurut data terbaru, Gajah Sumatera kini masuk dalam kategori Critically Endangered (Sangat Terancam Punah) dalam daftar merah IUCN. Status ini hanya satu Tingkat sebelum dinyatakan punah di alam liar. Penurunan populasi ini dipicu oleh menyempitnya ruang hidup akibat alih fungsi lahan menjadi Perkebunan dan pemukiman, yang membuat gajah kehilangan “rumah” dan jalur jelajahnya.
Comunications and Education Manager WWF Indonesia, Diah R. Sulistiowati menjelaskan bahwa gajah memiliki memori ruang yang luar biasa. “Gajah akan melewati jalur yang sama bahkan setelah 30 tahun. Namun, ketika mereka Kembali ke jalur tersebut yang mungkin sudah berubah menjadi kebun atau kampung. Inilah yang kemudian memicu konflik/interaksi negatif dengan manusia,” ujarnya dalam dialog bersama RRI Pro 1 Aceh, Sabtu 28 Maret 2026.
Selain itu, gajah sering masuk ke pemukiman warga karena mencari salt lick (sumber garam/mineral), dan tempat bermain yang hilang akibat kerusakan ekosistem. Ancaman lain adalah ketika habitat gajah terfragmentasi (terpotong-potong), satu kelompok gajah akan terjebak di satu area kecil yang mebuat mereka tidak dapat bermigrasi atau mencari pasangan dari kelompok lain di luar wilayahnya. Hal ini beresiko menyebabkan perkawinan sedarah yang merusak kualitas genetika mereka dalam jangka panjang dan memperpendek umur gajah.
Salah satu solusi inisiatif yang dibahas adalah adanya proyek Peusangan Elephant Conservation initiative (PECI). Melalui inisiatif ini, lahan seluas kurang lebih 90.000 hektar di Kawasan Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Bireuen diserahkan untuk dikelola sebagai Kawasan konservasi gajah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....