Menekraf: Ekosistem Ekonomi Kreatif Solusi Tekan Pengangguran di Kota Malang

  • 23 Agt 2026 14:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Ekraf menilai predikat Kota Kreatif UNESCO, menjadi momentum memperkuat talenta kreatif Malang

RRI.CO.ID, Jakarta – Komunitas memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di daerah. Demikian disampaikan Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf), Teuku Riefky Harsya, di Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu 22 Agustus 2026.

Menurut dia, festival kreatif merupakan ruang pertemuan berbagai potensi dan peluang ekonomi. Salah satunya Festival Mbois 11 bertema “Malang Menyala” yang berlangsung pada Sabtu 22 Agustus 2026.

“Festival seperti Mbois menjadi ruang bertemunya ide, talenta, pasar, dan investasi, agar karya tidak berhenti setelah festival,” ujarnya. “Namun, dia akan tetapi terus dikembangkan, dilindungi kekayaan intelektualnya, dan akhirnya dikomersialisasikan.”

Menurut Menekraf, status Malang sebagai Kota Kreatif UNESCO bidang Media Arts bukanlah merupakan tujuan akhir. Predikat tersebut, lanjut dia, justru menjadi momentum untuk memperkuat talenta dan ekosistem kreatif secara berkelanjutan.

“Malang perlu terus menjaga regenerasi talentanya," ucapnya. "Malang Creative Center (MCC) harus menjadi living ecosystem yang melahirkan kreativitas, kewirausahaan, lapangan kerja, serta dampak ekonomi bagi masyarakat."

Festival Mbois 11 juga memperkuat jejaring antarkota kreatif melalui konsep Creative Impact Platform. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Road to World Conference on Creative Economy atau WCCE.

Pengembangan ekonomi kreatif juga mengacu pada Perpres Nomor 37 Tahun 2026 tentang Rindekraf 2026–2045. Karena itu, Riefky menekankan pemerintah pusat dan daerah akan terus berkolaborasi melalui riset, pendidikan, pembiayaan, infrastruktur, pemasaran, dan insentif.

Kolaborasi mencakup fasilitasi serta konservasi kekayaan intelektual untuk memperkuat potensi ekonomi kreatif daerah. Pada kunjungan tersebut, Menekraf juga meninjau berbagai agenda Festival Mbois 11.

Missalnya Pameran Muraloka Informasi 100 Tahun Gajayana dan lima potensi kekayaan intelektual lokal. Riefky juga meninjau Media Art Exhibition, area sportainment, serta bus digitalisasi ekonomi kreatif.

“Kota Malang memiliki talenta dan ekosistem kreatif yang luar biasa dengan dukungan akademisi, pemerintah daerah, komunitas, dan media," ujarnya. "Ketika semua dipadukan dengan inovasi, kreativitas, dan teknologi, potensi tersebut akan memberi nilai tambah."

Ketua Pelaksana Festival Mbois 11, Gedeon Soerja, mengatakan kehadiran Menekraf menjadi bentuk dukungan pemerintah. Menurut dia, hal ini penting bagi pengembangan ekosistem kreatif Kota Malang.

“Salah satu kebanggaan buat kami, event kami didatangi oleh Pak Menekraf," ujarnya. "Harapannya Festival Mbois 11 ini menjadi wadah integrasi antarkomunitas dan pemangku kepentingan untuk memperkuat posisi Malang sebagai Living Media City."

Festival Mbois 11 diinisiasi Malang Creative Fusion dan berlangsung pada 21–23 Agustus 2026. Festival tersebut menargetkan lebih dari 20 ribu pengunjung dan melibatkan 500 pelaku kreatif.

Penyelenggara juga menargetkan 300 business matching, dan potensi transaksi hingga Rp150 miliar. Festival menghadirkan lima klaster utama ekonomi kreatif.

Di antaranya Sound of Malang Menyala, Made by Arema, dan Malang Sportainment. Kemudian Malang Creative Connect serta Malang Media Art Experience.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....