Menteri Ekraf: Ekonomi Kreatif Jadi Kunci Kemandirian Strategis Asia Tengga
- 19 Jun 2026 14:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Sektor ekraf dinilai jadi mesin baru pertumbuhan di era aset digital dan kekayaan intelektual.
- Kinerja 2025 menunjukkan tren positif, yakni PDB 6,86%, ekspor USD31,94 miliar, serap 27 juta tenaga kerja
- Kolaborasi dengan World Intellectual Property Organization perkuat ekosistem digital ASEAN.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya, menekankan peran penting ekonomi kreatif dalam menjaga kemandirian strategis Asia Tenggara. Pergeseran ekonomi dari aset fisik ke aset tidak berwujud (kekayaan intelektual, konten digital, teknologi) membuat ekraf semakin krusial.
"Tantangan Asia, termasuk Indonesia, kini adalah menjaga daya saing di tengah ekosistem global berbasis inovasi, teknologi, dan talenta. Indonesia menjadikan ekonomi kreatif sebagai salah satu mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional," katanya, dalam ajang Asia Economic Summit 2026 di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu, 17 Juni 2026.
Kinerja sektor ini juga menunjukkan tren positif, dengan pertumbuhan PDB ekonomi kreatif pada 2025 mencapai 6,86 persen. Selain itu, kontribusi ekspor mencapai USD31,94 miliar, investasi Rp183 triliun, serta menyerap lebih dari 27 juta tenaga kerja.
Forum tersebut dihadiri ratusan pemimpin global dari berbagai negara dan sektor. Serta menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, industri, dan investor.
Menekraf juga menekankan optimalisasi aset tidak berwujud seperti kekayaan intelektual dan talenta lokal untuk menghadapi dinamika geopolitik. Pemerintah pun mendorong kolaborasi dengan sektor keuangan dan regulator agar aset digital dapat dimanfaatkan sebagai basis pembiayaan.
Kekayaan intelektual, menurutnya, merupakan aset yang mampu menciptakan nilai ekonomi jangka panjang, menarik investasi, serta memperkuat daya saing. Penguatan kerja sama dan dukungan terhadap kreator penting untuk membangun ekosistem ekraf yang terintegrasi di Asia Tenggara.
Kemenekraf bekerja sama dengan World Intellectual Property Organization melalui program Creative Economy Data Model untuk memperkuat basis data ekosistem digital ASEAN. Langkah ini diharapkan mampu mengoptimalkan potensi demografi muda dan keragaman budaya di kawasan.
Pimpinan Tech in Asia, Terence Lee, menilai forum tahun ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan negara-negara Asia Tenggara. Utamanya memperkuat koordinasi menghadapi tantangan global, mulai dari ketahanan ekonomi hingga pengembangan infrastruktur AI.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....