Kepala BGN Ancam Pecat Kepala SPPG yang Lalai

  • 16 Agt 2026 22:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono mengancam akan memecat secara tidak hormat Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang terbukti lalai dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.
  • Insiden keamanan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis menyebabkan kejadian fatal dengan korban yang dirujuk ke Rumah Sakit Haji Medan.
  • Kunjungan langsung Kepala BGN ke lokasi korban menunjukkan respons serius terhadap pelanggaran dalam pelaksanaan program gizi nasional.

RRI.CO.ID, Medan - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengancam memecat secara tidak hormat Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terbukti lalai hingga menyebabkan kejadian fatal dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ancaman sanksi tersebut disampaikan Sudaryono saat mengunjungi salah satu siswa korban insiden keamanan pangan MBG yang dirujuk ke Rumah Sakit Haji Medan, Minggu 16 Agustus 2026.

Sudaryono menegaskan, sanksi bagi pihak yang terbukti lalai tidak hanya berupa pencopotan dari jabatan. Khusus Kepala SPPG yang berstatus aparatur sipil negara (ASN), ia memastikan akan mengajukan pemecatan tidak dengan hormat melalui Badan Kepegawaian Negara (BKN).

“Sanksinya yang pertama, dapurnya disuspend berat. Kemudian Kepala SPPG-nya, sanksi yang bisa saya berikan bukan hanya dicopot, tapi saya ajukan pemecatan dengan tidak hormat melalui Badan Kepegawaian Negara, status ASN-nya. Karena ini sudah menyangkut (nyawa),” ucap Sudaryono.

Ia juga membuka kemungkinan menyerahkan proses investigasi kepada aparat penegak hukum untuk mengusut dugaan kelalaian dalam insiden tersebut. Menurut Sudaryono, keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG bukan sekadar persoalan operasional dapur.

Hal tersebut menyangkut keselamatan dan nyawa para penerima manfaat. Karena itu, seluruh kepala dapur, petugas, dan penanggung jawab diminta memastikan seluruh prosedur operasional standar (SOP) dijalankan dengan baik.

Sudaryono juga meminta petugas yang merasa tidak mampu menjalankan tugas untuk mengundurkan diri. Menurutnya, langkah tersebut lebih baik daripada membahayakan keselamatan penerima manfaat MBG.

“Ini juga peringatan bagi yang lain, harus ekstra hati-hati dan kerja dengan sebaik-baiknya. Kalau enggak bisa, kau mundur. Kalau merasa enggak mampu, mundur,” ujarnya.

“Jangan nyawa orang jadi permainan. Kalau enggak mampu jadi kepala dapur, kalau enggak mampu jadi chef, kalau enggak mampu jadi petugas di situ, kau mundur aja. Karena nyawa seseorang enggak bisa dipertaruhkan,” kata Sudaryono.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....