BNPB: Karhutla di Sejumlah Daerah Berhasil Dipadamkan

  • 07 Agt 2026 08:41 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BNPB mencatat dalam periode pemantauan Pusdalops 6-7 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB, kejadian bencana masih didominasi oleh peristiwa yang dipicu faktor cuaca dengan dampak yang memerlukan penanganan dan pemantauan lanjutan.
  • Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di beberapa wilayah Indonesia termasuk Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang menghanguskan sekitar 13 hektare lahan.
  • Abdul Muhari, Ph.D., Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, menginformasikan bahwa beberapa peristiwa kebakaran hutan dan lahan masih berlanjut dan memerlukan pemantauan berkelanjutan.

RRI.CO.ID, Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum sejumlah kejadian bencana yang terjadi dalam periode pemantauan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB pada 6 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB hingga 7 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB. Hasilnya, kejadian bencana baru masih didominasi oleh beberapa peristiwa yang dipicu oleh faktor cuaca dengan dampak yang memerlukan penanganan dan pemantauan lanjutan.

"Adapun beberapa peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di beberapa wilayah Indonesia," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, Ph.D. dalam rilisnya, Jumat 7 Agustus 2026. Di Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kebakaran hutan dan lahan menghanguskan sekitar 13 hektare lahan.

Lokasi titik api tersebar di tiga desa meliputi; Desa Selingsing di Kecamatan Gantung, Desa Lalang di Kecamatan Manggar dan Desa Mangkubang di Kecamatan Damar. "Berkat upaya pemadaman yang dilakukan petugas gabungan, api berhasil dipadamkan pada Kamis 6 Agustus 2026, dan kondisi di lokasi telah dinyatakan aman serta terkendali," jelasnya.

Di Provinsi Jawa Tengah, karhutla juga terjadi di Kabupaten Wonogiri dengan luasan terdampak sekitar 2,5 hektare pada Rabu 5 Agustus 2026. Lokasi terdampak berada di Desa Kaliancar dan Desa Kepatihan di Kecamatan Selogiri.

"Api berhasil dipadamkan pada Kamis 6 Agustus pukul 14.30 WIB. Sehingga tidak lagi mengancam permukiman maupun aktivitas masyarakat di sekitar lokasi," ujarnya.

Di wilayah Indonesia bagian timur, kebakaran hutan dan lahan juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara, pada Kamis 6 Agustus, dengan luasan sekitar 3,5 hektare. Wilayah terdampak mencakup Desa Bakan di Kecamatan Lolayan dan Desa Lolak 2 di Kecamatan Lolak.

"Hingga kini, tim gabungan masih melakukan pemantauan di sejumlah titik rawan guna mengantisipasi munculnya titik api baru," ucap Abdul Muhari. Kejadian karhutla juga melanda Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan, sejak Rabu 29 Juli 2026, yang mana penanganan terus dilakukan hingga Kamis 6 Agustus 2026.

Luasan lahan yang terbakar masih dalam proses pendataan dan diperkirakan mencapai sekitar 55 hektare. Lokasinya berada di Kelurahan Rante Kalua di Kecamatan Mengkendek, Kelurahan Mendetek di Kecamatan Makale Utara dan sebagian wilayah di Kecamatan Makale.

Api berhasil dipadamkan pada Kamis 6 Agustus 2026 pukul 20.30 WITA sehingga kondisi di lokasi saat ini telah terkendali. Di Provinsi Sulawesi Tenggara, peristiwa karhutla terjadi di Kabupaten Kolaka Timur, pada Kamis 6 Agustus 2026, dengan luasan sekitar 6 hektare.

"Titik api diketahui berada di Desa Poni-Poniki, Kecamatan Tirawuta. Petugas berhasil mengendalikan dan memadamkan api pada hari yang sama sehingga tidak meluas ke kawasan lainnya," katanya.

Selanjutnya, karhutla juga terjadi di Kota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, pada Rabu 5 Agustus. Lokasi terdampak berada di Desa Malasilen, Kecamatan Sorong Utara dan Desa Rufei, Distrik Sorong Barat.

Luasan lahan terdampak mencapai sekitar 10 hektare atau bertambah sekitar 5 hektare dari laporan sebelumnya. Api berhasil dipadamkan pada hari yang sama pada pukul 22.15 WIT.

Selain itu, kebakaran juga terjadi di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Kota Sorong, yang berada di Kelurahan Melasilen, Distrik Sorong Utara, pada Kamis 6 Agustus 2026. Luas TPA yang terbakar sekitar 5 hektare.

"Kondisi di lokasi telah dinyatakan aman setelah proses pemadaman selesai dilakukan pada hari yang sama," jelasnya. Di samping sejumlah kejadian baru tersebut, BNPB juga terus melakukan pendampingan terhadap penanganan karhutla di sejumlah provinsi prioritas, di antaranya Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, serta Jawa Timur.

Upaya yang dilakukan meliputi pendampingan operasi darat, dukungan tim udara, hingga pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah yang masih mengalami potensi kebakaran tinggi. Sementara itu, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, dampak kekeringan yang cukup signifikan telah dirasakan masyarakat sejak Selasa 28 Juli 2026.

Berdasarkan pendataan sementara, sedikitnya 7.980 kepala keluarga atau sekitar 25.830 jiwa terdampak akibat berkurangnya ketersediaan air bersih. BPBD setempat telah mendistribusikan sekitar 148.000 liter air bersih guna memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak.

Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG untuk tiga hari ke depan, sebagian besar wilayah Sumatra bagian selatan, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua masih didominasi cuaca cerah hingga cerah berawan yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Namun demikian, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpeluang terjadi secara lokal pada sore hingga malam hari di beberapa wilayah Indonesia akibat aktivitas atmosfer yang dapat memicu pertumbuhan awan konvektif.

Kondisi ini berpotensi menyebabkan angin kencang sesaat, petir, maupun hujan lokal yang perlu diwaspadai masyarakat. BNPB mengimbau pemerintah daerah bersama BPBD agar terus meningkatkan patroli terpadu di wilayah rawan karhutla, memperkuat deteksi dini terhadap titik panas, serta memastikan kesiapan personel dan sarana pemadaman.

Masyarakat juga diharapkan tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat segera ditangani sebelum meluas. "Di wilayah yang mengalami kekeringan, pemerintah daerah diharapkan terus memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat, mengoptimalkan distribusi bantuan air bersih, serta mengedukasi masyarakat untuk melakukan penghematan penggunaan air," kata Abdul Muhari.

BNPB juga mengajak masyarakat untuk terus memantau informasi resmi dari BMKG, BPBD, dan BNPB sebagai dasar dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi maupun karhutla selama musim kemarau.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....