KLH: Pemadaman Kebakaran TPA Jatiwaringin Sulit karena Mirip Lahan Gambut

  • 04 Jul 2026 17:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemadaman kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang tidak mudah karena karakteristik api menyerupai kebakaran lahan gambut.
  • Api disebut tidak hanya membakar permukaan tumpukan sampah, tetapi juga terus menyala di bagian bawah.
  • Diaz berharap operasi TMC dapat segera dilakukan sehingga kebakaran yang melanda area sekitar 15 hektare di TPA Jatiwaringin dapat segera dikendalikan.

RRI.CO.ID, Tangerang - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengungkap penyebab sulitnya pemadaman kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten. Proses pememadaman tidak dapat dilakukan secara cepat karena karakteristik api menyerupai kebakaran lahan gambut.

Demikian disampaikam Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, di Kabupaten Tangerang, Sabtu 4 Juli 2026. Ia mengatakan api tidak hanya membakar permukaan tumpukan sampah, tetapi juga terus menyala di bagian bawah sehingga berpotensi kembali muncul meski bagian atas terlihat padam.

"Pemadaman ini bukan hal yang mudah, karakteristiknya mirip seperti kebakaran lahan gambut. Di atasnya terlihat sudah padam, tetapi ketika dilihat di bagian bawah masih ada api, jadi kapan saja bisa terus terbakar, dan karena ada gas metana (CH4), ada potensi ledakan," ujarnya.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat penanganan kebakaran membutuhkan waktu serta strategi khusus agar sumber api di bawah permukaan dapat dipadamkan secara menyeluruh.

Untuk mendukung proses penanganan, KLH akan mengoperasikan thermal drone yang dilengkapi kamera inframerah guna mendeteksi titik-titik panas dan menganalisis sumber kebakaran secara berkala.

Selain itu, dua unit mobile monitoring system juga dikerahkan untuk memantau kualitas udara di sekitar lokasi kebakaran. Termasuk mengukur kadar sulfur dioksida (SO₂), nitrogen dioksida (NO₂), serta partikel halus PM1.0 dan PM2.5.

Menurut Diaz, hasil pemantauan menunjukkan kualitas udara sempat berada pada tingkat yang sangat membahayakan dengan indeks mencapai sekitar 1.000. Meski berdasarkan pemantauan terakhir telah mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Dalam upaya mempercepat pemadaman, pemerintah juga mengerahkan 30 personel Manggala Agni dari Sulawesi dan Jawa Barat. Tim tersebut memiliki pengalaman menangani kebakaran lahan serta dilengkapi peralatan high pressure untuk menyemprot air hingga ke titik api yang berada di bawah permukaan tumpukan sampah.

"TPA ini kurang efektif jika hanya disiram dari atas karena di bawahnya masih terjadi kebakaran. Karena itu kami membutuhkan bantuan Manggala Agni untuk melakukan injeksi air hingga ke titik api di bawah," katanya.

Di sisi lain, pemerintah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BMKG juga menyiapkan pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Guna membantu mempercepat proses pemadaman.

Diaz berharap operasi TMC dapat segera dilakukan sehingga kebakaran yang melanda area sekitar 15 hektare di TPA Jatiwaringin dapat segera dikendalikan. "Dimungkinkan untuk melakukan operasi TMC besok. Kita akan melaksanakannya bersama BNPB dan BMKG," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....