KLH Kerahkan Drone Thermal Pantau Kebakaran TPA Jatiwaringin Secara Berkala

  • 04 Jul 2026 15:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Lingkungan Hidup menyiapkan drone thermal untuk memantau titik api di TPA Jatiwaringin guna mempercepat pengendalian kebakaran yang telah berlangsung selama lima hari.
  • Pemantauan udara dilakukan dengan koordinasi bersama bandara dan TNI AU karena kawasan berada dekat jalur penerbangan, sementara api masih menyala di bawah timbunan sampah yang dalam.
  • Asap kebakaran berdampak pada kesehatan warga sekitar dengan radius hingga 2,5 kilometer, menyebabkan ISPA, batuk, dan muntah, sehingga sejumlah warga terpaksa mengungsi ke hotel.

RRI.CO.ID, Tangerang - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyiapkan drone thermal untuk memantau titik api di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin. Teknologi itu diharapkan mempercepat pengendalian kebakaran yang masih berlangsung.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Faisal Malik Hendropriyono mengatakan, pemantauan udara dilakukan untuk membantu petugas menemukan titik api tersembunyi. Koordinasi, lanjut dia, dilakukan bersama tim penegakan hukum, bandara, dan TNI AU agar memperoleh izin penerbangan drone secara berkala.

"Kami meminta koordinasi dengan bandara dan TNI AU untuk pemantauan drone thermal. Langkah ini membantu analisis titik api secara berkala," kata Diaz di TPA Jatiwaringin, Sabtu 4 Juli 2026.

Ia mengatakan, kebakaran TPA Jatiwaringin telah berlangsung selama lima hari. Penanganan melibatkan BNPB, KLH, Kementerian Kehutanan, dan pemerintah daerah.

Diaz menjelaskan sebagian api berada di bawah tumpukan sampah yang dalam. Kondisi itu menyulitkan petugas mendeteksi sumber kebakaran.

Keberadaan gas metana memperbesar tantangan dalam proses pemadaman. Potensi ledakan juga menjadi perhatian selama penanganan berlangsung.

"Api terlihat padam di permukaan, tetapi masih menyala di bawah timbunan sampah. Gas metana juga meningkatkan potensi ledakan," ujarnya.

Pemantauan drone hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu. Kawasan tersebut berada dekat bandara dan jalur helikopter water bombing.

Karakteristik kebakaran disebut menyerupai kebakaran lahan gambut. Api dapat kembali muncul meski permukaan terlihat sudah padam.

Berdasarkan laporan BNPB, sekitar 40 persen area terdampak berhasil dikendalikan. Namun, asap pekat masih terlihat menyelimuti lokasi.

Asap kebakaran juga berdampak pada kesehatan warga sekitar. Sejumlah warga mengeluhkan ISPA, batuk, dan muntah akibat paparan asap.

Seorang warga, Mimi Kettri mengatakan, jarak kediamannya dari TPA Jatiwaringin sekitar 2,5 kilometer. Kepulan asap yang terbawa angin membuat komplek perumahan tertutup asap pekat.

Bahkan, anaknya yang masih balita sempat dirawat di rumah sakit. Setiap hari anaknya harus minum obat, jenisnya banyak.

"Batuk ringan, muntah. Baunya sudah mendampaki hingga kepemukiman warga," kata Mimi, warga perumahan Griya Artha di Kecamatan Rajeg, Jumat, 3 Juli 2026.

Usai sang buah hati menjalani perawatan medis kini dirinya pilih mengungsi. Hotel dianggap menjadi lokasi pengungsian paling aman untuk proses pemulihan kesehatan anaknya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....