Gubernur Sulteng: Warga Masih Takut Tinggal di Rumah Pascagempa M6,7

  • 18 Jun 2026 21:44 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sebagian warga terdampak gempa bumi magnitudo 6,7 masih takut untuk kembali tinggal di dalam rumah.
  • Saat ini, banyak warga memilih bertahan di tenda-tenda darurat yang didirikan di sekitar permukiman mereka.
  • Gubernur Anwar Hafid telah meninjau langsung lokasi terdampak gempa di lima desa di Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi.

RRI.CO.ID, Palu - Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid mengungkapkan bahwa sebagian warga terdampak gempa bumi magnitudo 6,7 masih diliputi rasa takut untuk kembali tinggal di dalam rumah. Saat ini, banyak warga memilih bertahan di tenda-tenda darurat yang didirikan di sekitar permukiman mereka, pascagempa mengguncang Sulawesi Tengah 16 Juni 2026.

Hal tersebut disampaikan Anwar Hafid setelah meninjau langsung lokasi terdampak gempa di lima desa di Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi. Yakni, Desa Bulili, Desa Sopu, Desa Kadidia, Kamarora A, dan Kamarora B.

“Kami baru saja rapat dengan seluruh kepala desa, masyarakat menyampaikan kebutuhan utama mereka adalah tenda karena masih takut tinggal di dalam rumah. Selain itu, mereka membutuhkan air minum bersih karena sumber air tertutup longsor, serta obat-obatan dan selimut untuk anak-anak,” kata Anwar dikutip Kamis 18 Juni 2026.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan pemerintah provinsi juga menggelar rapat bersama para kepala desa. Guna menyerap langsung kebutuhan masyarakat terdampak bencana.

Berdasarkan hasil pertemuan, kebutuhan mendesak warga saat ini meliputi air bersih, terpal atau tenda darurat, obat-obatan, selimut, serta kebutuhan khusus bagi anak-anak. Ketersediaan air bersih menjadi prioritas utama karena sejumlah sumber air warga tertutup material longsor akibat gempa.

Dari lima desa yang terdampak, Desa Kamarora B menjadi wilayah dengan dampak paling signifikan. Trauma akibat gempa masih dirasakan kuat oleh masyarakat setempat.

Bahkan, terdapat seorang ibu yang terpaksa melahirkan di tenda darurat karena masih dibayangi trauma bencana gempa besar yang pernah melanda Sulawesi Tengah pada 2018. Sebagai langkah tanggap darurat, Pemprov Sulteng segera menyalurkan 550 unit tenda terpal, jumlah yang disebut melebihi kebutuhan saat ini sebagai langkah antisipasi apabila situasi berkembang.

Selain itu, bantuan berupa selimut dan tenda portabel juga akan didistribusikan kepada warga terdampak. Pemerintah juga menyalurkan sekitar 650 paket sembako untuk membantu kebutuhan masyarakat.

Data sementara menunjukkan sekitar 550 kepala keluarga mengalami dampak pada tempat tinggal mereka. Meski terdampak gempa, sebagian besar warga memilih tetap berada di sekitar rumah masing-masing dan tidak mengungsi secara kolektif.

Keputusan tersebut diambil untuk menjaga keamanan harta benda mereka. Di sisi lain, pemerintah tengah melakukan asesmen terhadap rumah-rumah warga guna menentukan tingkat kerusakan, baik rusak ringan maupun rusak berat.

Hasil pendataan tersebut akan menjadi dasar penyusunan program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Anwar Hafid juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, namun tidak perlu panik.

Berdasarkan informasi dari BMKG, intensitas gempa susulan terus menunjukkan tren melemah. Hal ini jika dibandingkan saat awal kejadian 16 Juni 2026 kemarin.

“Saya mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memperhatikan situasi saat beraktivitas. Namun tidak perlu panik karena berdasarkan informasi BMKG, gempa susulan semakin melemah dan mudah-mudahan segera berakhir,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....