Karyawan IMIP Dorong Pertumbuhan UMKM di Bahodopi
- 24 Mei 2026 10:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Karyawan IMIP Dorong Pertumbuhan UMKM di Bahodopi
RRI.CO.ID, Morowali — Kehadiran Indonesia Morowali Industrial Park menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi lokal di Bahodopi. Kawasan industri itu juga menciptakan perputaran ekonomi signifikan bagi masyarakat sekitar.
Mayoritas karyawan IMIP berada pada rentang usia 26 hingga 35 tahun. Proporsinya mencapai 56,4 persen berdasarkan survei perputaran ekonomi Kecamatan Bahodopi.
Kelompok usia produktif dinilai memiliki tingkat konsumsi harian yang tinggi dan stabil. Kondisi tersebut turut mendorong aktivitas ekonomi masyarakat sekitar kawasan industri.
Survei tim Research and Support Departemen Secretariat General Affair PT IMIP mencatat konsumsi harian cukup dominan. Sebanyak 98,4 persen responden mengalokasikan pengeluaran untuk makanan dan minuman.
Rata-rata belanja konsumsi mencapai sekitar Rp2,19 juta setiap bulan. Sektor kuliner pun menjadi penopang utama ekonomi lokal di sekitar kawasan IMIP.
Dalam riset tersebut, total pengeluaran bulanan karyawan diperkirakan mencapai Rp492 miliar. Nilainya setara sekitar Rp5,9 triliun dalam setahun.
Besarnya pengeluaran itu mencerminkan daya beli tenaga kerja industri yang kuat. Kondisi tersebut juga menunjukkan kontribusi industri terhadap ekonomi berbasis masyarakat.
Tingginya konsumsi harian mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah di Bahodopi. Saat ini terdapat 7.643 unit UMKM yang beroperasi di wilayah tersebut.
Sebanyak 78 persen UMKM tergolong usaha mikro dan 22 persen usaha kecil. Kehadiran mereka memenuhi kebutuhan harian para pekerja industri.
UMKM menyediakan layanan makanan, kontrakan, transportasi, dan kebutuhan dasar lainnya. Aktivitas itu menciptakan rantai ekonomi yang terus bergerak di sekitar kawasan industri.
Selain konsumsi makanan, kebutuhan tempat tinggal juga meningkat signifikan. Sebanyak 82,6 persen pekerja tinggal di rumah kos atau kontrakan.
Rata-rata biaya sewa tempat tinggal mencapai Rp1,26 juta setiap bulan. Sektor indekos pun berkembang pesat seiring pertumbuhan jumlah tenaga kerja.
Survei juga mencatat 79,3 persen responden mengeluarkan biaya rutin transportasi. Kondisi itu turut menggerakkan sektor jasa transportasi lokal di Bahodopi.
Sebagian besar pekerja memilih berbelanja di warung dan kios lokal. Persentasenya mencapai 57 persen dibandingkan toko modern.
Kedekatan lokasi menjadi alasan utama pilihan berbelanja para pekerja. Faktor harga terjangkau dan hubungan sosial juga memengaruhi preferensi tersebut.
Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Sulawesi Tengah menilai sektor pendukung ekonomi perlu terus diperkuat. Penguatan itu mencakup perdagangan, jasa logistik, konstruksi, dan UMKM pendukung.
“Langkah ini bertujuan membantu memperluas distribusi manfaat ekonomi dari aktivitas industri. Selain itu, dapat membantu menciptakan lebih banyak kesempatan kerja bagi masyarakat lokal,” tulis BI Sulteng.
Dalam jangka panjang, daerah juga perlu melakukan diversifikasi ekonomi. Langkah itu penting agar perekonomian tidak bergantung pada satu sektor utama.
Sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata dinilai memiliki potensi besar dikembangkan. Industri pengolahan skala menengah juga dinilai dapat memperkuat ekonomi daerah.
Kepala Badan Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, Andi Irman, mengatakan pemerintah terus menjaga iklim investasi kondusif. Pemerintah daerah juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat.
“Pemerintah mendukung kebijakan hilirisasi industri untuk memberi nilai tambah komoditas daerah. Langkah itu juga memperkuat pengelolaan potensi fiskal daerah,” kata Andi.
Dengan daya beli yang kuat, kawasan IMIP diproyeksikan tetap menjadi penggerak ekonomi lokal. Pertumbuhan itu diharapkan menciptakan kesejahteraan masyarakat secara lebih merata.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....