ATM Sampah di Magelang Ubah Botol Plastik Jadi Saldo Rupiah
- 19 Jul 2026 17:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- ATM Sampah Magelang memungkinkan masyarakat menukarkan botol plastik menjadi saldo rupiah sebagai solusi inovasi pengelolaan sampah.
- Teknologi ini mengadopsi sistem Reverse Vending Machine (RVM) yang telah populer dan terbukti efektif di negara-negara Eropa.
- Konsep ATM Sampah dirancang agar botol plastik tidak langsung dibuang atau tercampur dengan jenis sampah lainnya, mendukung program daur ulang yang lebih terstruktur.
RRI.CO.ID, Jakarta – Inovasi pengelolaan sampah terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan. Salah satu inovasinya ialah ATM Sampah di Magelang yang memungkinkan masyarakat menukarkan botol plastik menjadi saldo rupiah.
Inovator ATM Sampah Magelang Ben Swarna Sugi mengatakan konsep tersebut mengadopsi Reverse Vending Machine (RVM) yang populer di Eropa. Inovasi tersebut hadir sebagai solusi agar botol plastik tidak langsung dibuang atau tercampur dengan sampah lainnya.
"Konsepnya memasukkan sampah ke mesin ATM, nanti langsung mendapatkan saldo berupa rupiah. Kami ingin masyarakat bisa menjual botol plastik secara satuan tanpa harus menunggu terkumpul banyak," ujar Ben kepada RRI Pro 3, Minggu, 19 Juli 2026.
Menurut Ben, inovasi tersebut lahir dari persoalan yang kerap dihadapi masyarakat saat menjual sampah plastik. Selama ini, botol plastik umumnya harus dikumpulkan hingga mencapai berat tertentu sebelum dapat dijual ke bank sampah atau pengepul.
"Padahal rata-rata masyarakat hanya menghasilkan satu atau dua botol plastik setiap hari. Kami ingin mengakomodasi penjualan botol secara satuan agar sampah tidak tercampur atau langsung dibuang," katanya.
Untuk sementara, ATM Sampah hanya menerima botol plastik dan belum melayani botol berbahan kaca. Setiap botol yang dimasukkan ke mesin akan dihargai sebesar Rp50 tanpa harus menunggu jumlah tertentu.
Ben menegaskan ATM Sampah bukan bertujuan menggantikan peran bank sampah, melainkan melengkapinya. Berbeda dengan bank sampah konvensional, mesin tersebut dapat digunakan selama 24 jam tanpa memerlukan operator.
"ATM Sampah ini bukan pesaing bank sampah, tetapi pelengkap. Mesin dapat menerima sampah selama 24 jam sehingga masyarakat lebih mudah menukarkan botol plastik kapan saja," ucapnya.
Selain menerima sampah, sistem ATM Sampah juga terhubung dengan pelaku UMKM di sekitar lokasi mesin. Melalui aplikasi berbasis web, pengguna dapat mengakses informasi produk UMKM yang berada di sekitar lokasi mesin ATM.
Ben mengatakan kehadiran ATM Sampah mulai mengubah perilaku masyarakat, terutama anak-anak dan generasi muda. Mereka menjadi lebih antusias mengumpulkan botol plastik karena proses penukarannya dinilai praktis dan menarik.
"Kami ingin menjaga lingkungan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Anak-anak sampai mencari botol plastik untuk dimasukkan ke ATM Sampah karena dianggap seperti wahana," ujarnya.
Meski demikian, Ben mengakui tantangan terbesar dalam mengembangkan inovasi tersebut adalah meningkatkan edukasi dan publikasi kepada masyarakat. Menurutnya, penerapan digitalisasi pengelolaan sampah di kota yang tidak terlalu besar membutuhkan upaya sosialisasi lebih intensif.
Saat ini ATM Sampah telah beroperasi di SMP Negeri 6 Magelang dan salah satu masjid setempat. Ben mengatakan sejumlah komunitas dan institusi dari Jember, Semarang, hingga Bekasi berminat menghadirkan ATM Sampah serupa. (Rahmania Ulfah)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....