Bahaya Kurang Tidur Terhadap Produktivitas Pekerja Muda
- 05 Feb 2026 13:36 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID, Natuna - Di kalangan pekerja muda, istilah "hustle culture" atau budaya bekerja berlebihan sering kali membuat mereka mengabaikan waktu istirahat, terutama tidur. Banyak yang merasa bangga jika hanya tidur selama empat jam demi menyelesaikan proyek atau pekerjaan kantor. Padahal, kurang tidur kronis memiliki dampak sistemik yang buruk bagi fungsi kognitif dan kesehatan fisik secara keseluruhan.
Secara medis, tubuh membutuhkan waktu tidur yang cukup untuk melakukan regenerasi sel dan pembersihan racun di otak. Saat seseorang kurang tidur, kemampuan fokus, kreativitas, dan pengambilan keputusannya akan menurun drastis. Hal ini justru membuat produktivitas yang dikejar menjadi tidak efisien dan rentan terhadap kesalahan fatal dalam bekerja.
Selain itu, kurang tidur dalam jangka panjang dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit degeneratif seperti obesitas, diabetes, dan hipertensi. Tubuh yang tidak mendapatkan istirahat cukup akan mengalami gangguan metabolisme dan ketidakseimbangan hormon lapar-kenyang. Akibatnya, pekerja muda lebih rentan mengalami kelelahan ekstrem atau burnout di usia produktif.
Dari sudut pandang efisiensi kerja, manajemen waktu yang baik seharusnya menyertakan jadwal istirahat yang disiplin. Perusahaan yang peduli pada kesejahteraan karyawan mulai menyadari bahwa karyawan yang cukup istirahat bekerja jauh lebih baik daripada mereka yang terus-menerus lembur. Tidur berkualitas adalah kunci utama untuk menjaga performa kerja tetap optimal dan stabil.
Oleh karena itu, diperlukan perubahan pola pikir bahwa tidur bukanlah sebuah kemalasan, melainkan kebutuhan biologis yang mutlak. Membiasakan pola tidur 7 hingga 8 jam sehari akan memberikan energi baru untuk menghadapi rutinitas yang padat. Kesehatan adalah modal utama dalam berkarier, dan investasi terbaik dimulai dari bantal yang nyaman dan waktu tidur yang teratur.