Kapan Sebenarnya Malam Lailatul Qadar? Ini Penjelasannya
- 11 Mar 2026 09:59 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID, Natuna- Setiap bulan Ramadan, umat Islam di seluruh dunia menantikan satu malam yang sangat istimewa, yaitu Malam Lailatul Qadar. Malam ini diyakini sebagai malam penuh kemuliaan dan keberkahan, bahkan disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan.
Namun pertanyaan yang sering muncul adalah, kapan sebenarnya Lailatul Qadar terjadi? Apakah ada tanggal pasti? Para ulama menjelaskan bahwa waktu malam tersebut tidak diketahui secara pasti, tetapi terdapat petunjuk kuat dari Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW.
Melansir dari laman Baznas, Lailatul Qadar merupakan malam yang sangat dimuliakan dalam Islam karena pada malam inilah Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Hal ini disebutkan dalam Surah Al-Qadr ayat 1: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar.”
Secara bahasa, kata “qadar” memiliki beberapa makna, salah satunya adalah penetapan atau ketentuan Allah terhadap perjalanan hidup manusia. Sebagian ulama menjelaskan bahwa pada malam tersebut Allah menetapkan berbagai ketentuan bagi makhluk-Nya untuk satu tahun ke depan.
Karena kemuliaannya, ibadah pada malam Lailatul Qadar diyakini memiliki nilai yang sangat besar, bahkan lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun.
Kapan Malam Lailatul Qadar Terjadi?
Para ulama sepakat bahwa Lailatul Qadar terjadi pada bulan Ramadan, tetapi tanggal pastinya tidak disebutkan secara pasti. Rasulullah SAW justru menganjurkan umatnya untuk mencarinya pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil.
Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari disebutkan: “Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan.”
Malam ganjil yang dimaksud adalah:
- 21 Ramadan
- 23 Ramadan
- 25 Ramadan
- 27 Ramadan
- 29 Ramadan
Sebagian ulama bahkan menilai bahwa malam ke-27 Ramadan adalah kemungkinan yang paling kuat, berdasarkan beberapa riwayat hadis dari sahabat Nabi. Namun demikian, para ulama juga menegaskan bahwa Lailatul Qadar bisa berpindah dari tahun ke tahun, sehingga umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadan.
Mengapa Waktunya Dirahasiakan?
Para ulama menjelaskan bahwa dirahasiakannya waktu Lailatul Qadar memiliki hikmah tersendiri. Jika tanggalnya diketahui secara pasti, dikhawatirkan sebagian orang hanya beribadah pada malam tersebut saja. Dengan dirahasiakannya malam ini, umat Islam didorong untuk memperbanyak ibadah, doa, dan mendekatkan diri kepada Allah selama sepuluh malam terakhir Ramadan, bukan hanya satu malam saja. Rasulullah SAW sendiri mencontohkan dengan i’tikaf di masjid dan meningkatkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar
Dalam beberapa riwayat, terdapat beberapa tanda yang sering disebut oleh para ulama, antara lain:
- Suasana malam terasa tenang dan damai
- Udara terasa sejuk dan tidak terlalu panas atau dingin
- Matahari pada pagi harinya terbit dengan cahaya lembut
Meski demikian, tanda-tanda tersebut tidak selalu dapat dirasakan oleh setiap orang, sehingga fokus utama tetap pada memperbanyak ibadah dan doa.
Amalan yang Dianjurkan
Beberapa amalan yang dianjurkan pada malam-malam terakhir Ramadan antara lain:
- Memperbanyak salat malam (qiyamul lail)
- Membaca Al-Qur’an
- Memperbanyak istighfar dan doa
- Melakukan i’tikaf di masjid
- Memperbanyak sedekah
Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah SAW ketika mencari Lailatul Qadar adalah:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”
Artinya: Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai memaafkan, maka maafkanlah aku.
Malam Lailatul Qadar merupakan malam paling mulia dalam bulan Ramadan. Meskipun tanggal pastinya tidak diketahui, hadis Nabi menunjukkan bahwa malam tersebut berada pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil seperti tanggal 21, 23, 25, 27, atau 29.
Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah pada penghujung Ramadan, agar tidak melewatkan kesempatan meraih keberkahan dari malam yang lebih baik daripada seribu bulan tersebut.