Lili Wahyuni, Lentera Hati Anak Istimewa
- 04 Mar 2026 21:32 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID. Natuna-Pagi itu, suasana SLB Negeri Natuna tampak berbeda. Sejumlah pelajar berkebutuhan khusus dari tingkat SD hingga SMA antusias mengikuti program pesantren kilat Ramadhan. Di antara mereka, berdiri sosok perempuan sederhana yang akrab disapa Bu Lili, membimbing dengan penuh kesabaran dan senyum yang tak pernah lepas.
Namanya Lili Wahyuni Hasibuan, perempuan perantau asal Sumatera Utara yang kini menetap di Natuna. Di usianya yang ke-44 tahun, ia mengabdikan diri sebagai PPPK paruh waktu di SLB Negeri Natuna sejak Agustus 2019. Meski berstatus pegawai administrasi, kesehariannya tak lepas dari mendampingi dan membimbing siswa-siswi berkebutuhan khusus.
Bagi para siswa, Bu Lili bukan sekadar pegawai sekolah. Ia adalah tempat bersandar, tempat bertanya, sekaligus sosok yang menghadirkan rasa aman. Saat pesantren kilat berlangsung sejak 23 Februari hingga 13 Maret 2026, Bu Lili turut aktif mendampingi praktik wudu, salat lima waktu, hingga tadarus Al-Qur’an sesuai kemampuan masing-masing anak.
Dengan pendekatan sabar dan fleksibel, ia memahami bahwa setiap anak memiliki ritme belajar berbeda. Jika hari itu seorang siswa lebih bersemangat melantunkan selawat, maka setelah salat duha ia akan mengajak mereka berselawat bersama. Ia bertanya selawat apa yang dihafal, siapa yang ingin memimpin, lalu memberi ruang agar anak tampil percaya diri.
Menghadapi anak-anak dengan beragam karakter dan emosi bukan perkara mudah. Namun bagi Bu Lili, semua dijalani dengan hati lapang. Saat ada siswa yang tantrum, ia tak membentak. Ia memilih mengusap dada anak dengan lembut, mengajarkan istighfar, dan membimbing doa agar kesabaran tumbuh dalam diri mereka. “Tidak ada rasa mengeluh, malah jadi pembelajaran agar lebih sabar,” tuturnya.
Sebelum bertugas di SLB, Bu Lili pernah mengajar di TK. Pengalaman itu menjadi bekal berharga, namun mendampingi anak berkebutuhan khusus memberinya makna berbeda. Ia merasa justru mendapatkan kebahagiaan baru, seolah menemukan ruang untuk belajar tentang ketulusan dan keikhlasan.
Di rumah, Bu Lili adalah ibu dari dua anak yang menjadi sumber semangatnya. Di sekolah, ia menjadi lentera bagi sekitar 40 siswa yang mengikuti pesantren kilat tahun ini. Bagi Bu Lili, Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi momentum menanamkan nilai sabar, doa, dan cinta kepada anak-anak istimewa Natuna.